Oleh: Sobirin Malian — Dosen FH Universitas Ahmad Dahlan

Halo teman-teman! Bayangkan lagi liburan di Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Ombak biru indah, angin sepoi-sepoi. Tapi pas dilihat secara dekat, banyak botol plastik, styrofoam, dan kantong kresek terapung. Bikin males kan? Atau ingat berita ngeri: TPA Sarimukti di Bandung longsor Januari 2025. Sampah setinggi rumah banjiri kampung warga. Bau menyengat dekat sekolah di Mampang Jaksel, anak-anak sakit. Sampah kota, kini memang darurat banget!

Tapi tunggu dulu. Ada masalah lain yang sama pentingnya, bahkan lebih susah diatasi: polusi plastik di laut. Kenapa? Plastik laut nggak cuma numpuk di pantai. Ia menyebar ke seluruh  pantai terutama tujuan wisata, di samudra seluruh dunia b6ukan hanya di Indonesia. Lalu balik lagi ke kita lewat ikan yang kita makan, air laut yang jadi uap hujan, bahkan garam dapur. Lebih ganas dari sampah kota!

Baca Juga  Isra Mikraj

Agustus 2025 lalu, 180 negara dunia berkumpul di Jenewa, Swiss, untuk rapat besar INC-5. Mereka mau membuat kesepakatan global: mengurangi plastik dari akarnya. Pesannya jelas buat kita di Indonesia: jangan cuma membersihkan sampah kota. Atasi juga plastik laut sekarang! Kalau nggak diatasi, kita kena dampaknya dua kali lebih parah.

Fakta Mengejutkan Soal Plastik

Produksi plastik dunia memang sudah gila-gilaan: 460 juta ton per tahun. Tapi cuma 9% yang bisa didaur ulang. Sisanya? Jadi sampah abadi. Di Indonesia, sampah plastik kita buang 7,8 juta ton. Ngeri ya? Sebanyak 68% masuk laut. Ini yang membuat  kita penyumbang sampah laut dunia nomor dua terbesar, setelah China. Data dari Jambeck cs (2015, update 2025). Untuk Sedotan plastik saja kita menyumbang 90 ton setahun, jika sedotan i6u kita sambung satu per satu panjangnya bisa mencapai Meksiko, kata Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia).

Baca Juga  Pembuktian Unsur Niat Dikaitkan dengan Mens Rea dalam Tindak Pidana Korupsi

Sementara itu sampah kota, misal Jakarta mengelola 8.000 ton per hari. Kota Yogya 2.000 ton/hari (30% plastik). Bandung 1.500 ton/hari. Sampah memang bisa diangkut truk ke TPA, tetapi plastik umumnya hanyut ke laut? “Hilang” ke samudra. Limbah plastik telah membunuh 100.000 burung, penyu, paus tiap tahun. Di Indonesia sendiri, nelayan Bali rugi Rp2 miliar/tahun gara-gara jaring rusak karena plastik.

Faisal Ramdhan dari AZWI (organisasi lingkungan) bilang, “Zero waste di kota itu bagus. Tapi kalau pabrik terus memproduksi plastik baru tanpa batas, ya…upaya yang sia-sia. Imbasnya balik lagi…ke  manusia juga”

 Apa yang Terjadi di Jenewa Setahun lalu?

Rapat di gedung Palexpo kala itu sangat ramai dan seru banget. 600 delegasi, ribuan aktivis NGO, jurnalis dari mana-mana hadir. Ketua Luis Vayas dari Ekuador dengan bersemangat menyatakan: “Kita harus punya kesepakatan (treaty) sebelum akhir 2025!” Dokumen dasar namanya Chair’s Text (Desember 2024). Isinya simpel:

  • Kurangi plastik baru (virgin plastic).
  • Hapus kemasan sekali pakai seperti sedotan, sendok plastik.
  • Produsen besar harus bertanggung jawab mendaur ulang.
Baca Juga  UMKM: Penjaga Stabilitas Ekonomi Bangka Belitung

Perdebatan menjadi sangat panas! Ada pro dan kontra.  Kelompok High Ambition Coalition (120 negara, termasuk Indonesia dan Eropa) mau target keras: kurangi produksi 40% sampai 2040. Lawannya? China (produsen 30% plastik dunia), AS, India, Rusia. Mereka bilang: “Sukarela aja. Tidak harus dipaksanakan. Kasih dana US$100 miliar dulu buat negara miskin kayak Indonesia.”

Di sela rapat, AZWI dan #BreakFreeFromPlastic berdemo damai. Spanduk besar dibentangkan: “Libatkan rakyat! Lindungi nelayan dan anak-anak!” Indonesia mewakili ASEAN. Kami usul (kata delegasi Indonesia) “just transition”: kurangi sampah plastik nasional 30% tahun mulai tahun 2026, sambil membuat ribuan pabrik daur ulang kecil, untuk mengrangi limbah.

Hasil Rapat: Belum Selesai, tapi Ada Harapan