Adil dalam Islam bukan berarti menyamaratakan segalanya, tetapi menempatkan sesuatu pada tempatnya. Namun ia juga mengingatkan bahwa orang tua harus menjaga agar perbedaan perlakuan tidak menimbulkan kecemburuan yang merusak hubungan.

Menurut As-Sa’di, hikmah terbesar ayat ini adalah peringatan halus bagi orang tua agar memperhatikan dampak emosional dari sikap mereka, bukan hanya alasan rasional di baliknya.

Sementara itu, Sayyid Qutb melihat ayat ini sebagai gambaran kompleksitas relasi keluarga. Menurutnya, Nabi Ya’qub berada dalam posisi yang sangat manusiawi. Ia mencintai, ia khawatir, dan ia berusaha melindungi. Namun di saat yang sama, dinamika keluarga tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Tentunya, sangat manusiawi sekali bila perasaan terrsebut hadir dalam sebuah relasi keluarga. Bahkan bila itu adalah keluarga para Nabi, insan pilihan Tuhan.  Sayyid Qutb menulis bahwa Al-Qur’an tidak menggambarkan keluarga para nabi sebagai keluarga tanpa masalah, tetapi sebagai keluarga nyata yang memberi pelajaran hidup.

Baca Juga  Luka yang Tidak Pernah Hilang, tapi Tidak Mematikan Harapan (Bagian 30)

Dalam Tarbiyatul Aulad fil Islam, Abdullah Nashih Ulwan secara tegas menempatkan keadilan sebagai salah satu pilar utama pendidikan anak. Ia menegaskan bahwa ketidakadilan, atau yang dirasakan sebagai ketidakadilan, adalah pemicu utama rusaknya hubungan saudara.

Ulwan mengingatkan bahwa orang tua perlu paling tidak untuk menyadari perbedaan kebutuhan anak. Lalu perlu juga menjelaskan alasan perlakuan yang berbeda serta menghindari ekspresi cinta yang berlebihan di hadapan anak lain.

Bukan berarti cinta harus dikurangi, tetapi perlu dikelola dengan hikmah.

Di keluarga modern, ketidakadilan sering tidak disengaja. Anak yang dianggap mandiri sering kurang diperhatikan. Anak yang bermasalah sering mendapat lebih banyak fokus. Atau mungkin justru sebaliknya. Tanpa komunikasi, perhatian ekstra ini mudah ditafsirkan sebagai pilih kasih.

Baca Juga  Sikat Gigi saat Berpuasa Batal atau Tidak?, Ini Jawabannya

Tulisan ini hadir untuk mengajak orang tua untuk berani bertanya pada diri sendiri. Apakah anak-anak kita merasa dicintai dengan cara yang mereka pahami?

Karena keadilan yang sejati bukan hanya soal pembagian, tetapi juga soal kehadiran dan pengakuan.