Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 13): Kesepian yang Membentuk Karakter
Kebohongan itu disusun rapi. Bahkan baju Yusuf dibawa pulang:
“Dan mereka datang membawa baju gamisnya dengan darah palsu.” (QS. Yusuf: 18)
Di sini ada dua dunia yang berjalan paralel. Di satu sisi, seorang anak bergulat dengan kesepian dalam sumur. Di sisi lain, ayahnya sedang diuji dengan kesabaran menghadapi kehilangan yang direkayasa.
Namun fokus kita tetap pada Yusuf.
Kesepian yang ia alami bukan kesepian sehari. Ia adalah kesepian yang mengguncang fondasi rasa percaya. Anak yang dikhianati sering tumbuh menjadi pribadi yang curiga terhadap semua orang. Tetapi pada diri Yusuf, kita tidak melihat perubahan menjadi keras atau pahit.
Mengapa?
Karena luka tidak selalu menentukan arah karakter. Yang menentukan adalah bagaimana luka itu diproses. Dan dalam kisah ini, luka Yusuf diproses dalam pengawasan Ilahi.
Kesepian yang ditemani oleh keyakinan berbeda dengan kesepian yang dibiarkan liar. Yang pertama melahirkan ketenangan yang dalam. Yang kedua melahirkan kekacauan.
Di dalam sumur itu, Yusuf belajar sesuatu yang mungkin tidak ia pelajari di rumah. Bersandar langsung kepada Allah tanpa perantara. Ia belajar bahwa manusia bisa menjauh, tetapi Tuhan tidak.
Dan pelajaran ini terlalu besar untuk dibayar dengan kenyamanan semata.
Bagi orang tua, bagian kisah ini mengandung pesan yang lembut namun tegas. Anak tidak selalu membutuhkan perlindungan total. Ia membutuhkan fondasi yang membuatnya mampu berdiri ketika perlindungan itu tidak ada.
Kesepian bisa menjadi racun. Tetapi ia juga bisa menjadi ruang tumbuh. Tergantung apa yang sudah tertanam sebelumnya.
Yusuf tidak keluar dari sumur sebagai anak yang sama seperti saat ia masuk. Sesuatu dalam dirinya telah ditempa. Bukan menjadi keras, tetapi menjadi dalam.
Dan kedalaman itu kelak menjadi sumber kebijaksanaannya.
