Oleh: Karisma Ayu Nandara, S.Pd. — Pengajar Al-Qur’an di SDIT Alam CAHAYA

Bulan Ramadan selalu hadir membawa suasana yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Di dalamnya, ada ketenangan yang lebih terasa, ada semangat ibadah yang meningkat, dan ada harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Umat Islam menyambut Ramadan dengan berbagai persiapan, mulai dari persiapan fisik hingga persiapan spiritualnya. Namun, di antara banyaknya amalan yang dapat dilakukan pada bulan ramadan, membaca Al-Qur’an seringkali belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya, padahal ia adalah ruh dari bulan suci Ramadan itu sendiri.

Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an karena pada bulan inilah wahyu pertama diturunkan. Al-Qur’an hadi sebagai petunjuk hidup, sebagai pembeda antara yang benar dan yang salah, serta sebagai Cahaya bagi umat manusia. Oleh karena itu, bulan Ramadan sejatinya bukan sekadar bulan untuk menahan rasa lapar dan haus, melainkan sebagai bulan yang hadir untuk mempererat kembali hubungan umat Islam dengan kitab suci Al-Qur’an. Tanpa kedekatan dengan Al-Qur’an, Ramadan berisiko hanya menjadi rutinitas tahunan yang berlalu tanpa makna yang mendalam.

Baca Juga  Petualangan Menyenangkan Siswa SDIT Alam Cahaya Toboali di Air Terjun C2

Membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas membaca teks suci saja. Lebih dari itu, ia adalah suatu bentuk komunikasi spiritual antara sang hamba dengan sang pencipta. Setiap ayat yang dibaca mengandung pesan, nasihat dan pengingat bagi kehidupan. Di Tengah kesibukan yang seringkali melelahkan, Al-Qur’an hadir sebagai penenang jiwa dan penuntun langkah bagi umat manusia. Bulan Ramadan menyediakan ruang waktu yang lebih luas untuk itu, waktu yang jarang kita miliki di dalam bulan-bulan lainnya.