Ayah yang Tidak Berhenti Berharap (QS. Yusuf: 18)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali

Kita kembali sejenak ke rumah yang jauh dari Yusuf. Di sana ada seorang ayah yang tidak melihat langsung apa yang terjadi pada anaknya, tetapi harus menanggung luka yang sangat dalam.

Tidak semua penderitaan seorang ayah datang dari apa yang ia lihat. Ada luka yang justru lahir dari apa yang tidak ia ketahui.

Nabi Ya’qub tidak menyaksikan sumur itu. Ia tidak melihat bagaimana Yusuf dijatuhkan. Ia tidak berada di tempat ketika saudara-saudaranya merancang tipu daya. Ia hanya melihat satu hal: anak-anaknya pulang membawa kabar.

Baca Juga  Menghadirkan Generasi Qurani

Kabar itu dibungkus dengan cerita dan bukti yang tampak meyakinkan.

“Dan mereka datang membawa baju gamis Yusuf yang berlumuran darah palsu…” (QS. Yusuf: 18)

Baju itu adalah simbol. Bagi seorang ayah, pakaian anaknya bukan sekadar kain. Ia membawa ingatan, kedekatan, dan kasih sayang. Ketika pakaian itu kembali tanpa pemiliknya, rasa kehilangan menjadi nyata.

Namun darah yang mereka bawa bukan darah yang sebenarnya. Ia adalah darah yang direkayasa.

Di sinilah ujian seorang ayah dimulai.

Anak-anaknya memberikan cerita bahwa Yusuf dimakan serigala. Secara lahiriah, cerita itu mungkin terdengar masuk akal. Tetapi hati seorang ayah sering membaca sesuatu yang tidak tertulis.

Al-Qur’an menggambarkan respons Ya’qub dengan kalimat yang sangat tenang:

Baca Juga  5 Keistimewaan Khusus dari Allah untuk Umat Nabi Muhammad di Bulan Ramadhan

“Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik suatu perbuatan yang buruk…” (QS. Yusuf: 18)

Ia tidak langsung menuduh secara kasar. Ia tidak meledak dalam kemarahan. Ia hanya menyatakan bahwa ada sesuatu yang tidak jujur dalam cerita itu.

Namun setelah kalimat itu, muncul sikap yang menjadi salah satu pelajaran terbesar dalam kisah ini.

“Maka kesabaran yang baik itulah (yang kupilih). Dan hanya kepada Allah aku memohon pertolongan atas apa yang kalian ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)