Menjemput Lailatul Qadar: Menghidupkan Spiritualitas di Penghujung Ramadan

Oleh: Dr.(H.C.) H.M. Gofi Kurniawan, Lc., S.QI., C.MA. — Pimpinan Ma’had Daarul Iman Bangka

​Ramadan kini hampir berada di garis finis. Sepuluh hari terakhir bukan sekadar penanda berakhirnya masa berpuasa, melainkan sebuah puncak spiritual di mana intensitas ibadah seharusnya mencapai puncak taqarrub (pendekatan diri). Ibarat pelari maraton yang melihat gerbang finis, inilah saatnya mengerahkan seluruh sisa energi demi meraih rida Sang Pencipta.

Makna dan Keutamaan
​Sepuluh malam terakhir adalah waktu di mana pintu langit terbuka lebar, menawarkan satu malam yang kemuliaannya melebihi seribu bulan: Lailatul Qadar. Motivasi utama kita dalam menghidupkan malam-malam ini bukanlah sekadar rutinitas tahunan, melainkan upaya transformasi diri dan pembersihan jiwa secara total.

Baca Juga  Al-Qur’an dan Keistimewaannya

Rasulullah saw telah memberikan teladan terbaik dalam memaksimalkan momentum ini. Sebagaimana dikisahkan dalam sebuah hadis:
​”Rasulullah saw apabila masuk sepuluh hari terakhir (Ramadan), beliau mengencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh dalam beribadah), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Strategi Menghidupkan Malam