Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 23): Dari Tahanan Menjadi Pemimpin
Di sinilah ia mulai mengenal struktur masyarakat, kekuasaan, dan tanggung jawab sosial.
Allah kemudian menyebutkan sebuah kalimat penting:
“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri itu, dan agar Kami mengajarkan kepadanya sebagian dari takwil peristiwa.” (QS. Yusuf: 21)
Seolah-olah Allah sedang menyiapkan Yusuf untuk sesuatu yang lebih besar.
Ujian yang Membentuk Karakter
Namun perjalanan Yusuf tidak berhenti di lingkungan yang nyaman.
Ia mengalami pengkhianatan dari saudara-saudaranya. Ia dijatuhkan ke dalam sumur. Ia hidup sebagai orang asing di negeri yang jauh dari keluarganya.
Kemudian ia menghadapi godaan yang sangat berat. Ia menolak, tetapi justru dituduh dan dipenjara.
Semua ini adalah fase yang bisa menghancurkan seseorang.
Tetapi pada diri Yusuf, fase gelap ini justru membentuk kedalaman karakter.
Dari pengkhianatan, ia belajar tentang luka dan pengampunan.
Dari keterasingan, ia belajar tentang ketahanan jiwa.
Dari fitnah, ia belajar menjaga kehormatan diri.
Dari penjara, ia belajar melayani orang lain dalam keterbatasan.
Yang paling menarik, di penjara ia mulai memainkan peran sebagai penafsir mimpi dan pemberi nasihat. Tanpa disadari, ia sedang melatih kemampuan kepemimpinan: memahami orang lain, membaca situasi, dan memberikan solusi.
Semua pengalaman ini membentuk sesuatu yang sangat penting bagi seorang pemimpin. Kedewasaan batin.
Pemimpin yang tidak pernah merasakan penderitaan sering tidak memahami rakyatnya. Tetapi pemimpin yang pernah merasakan keterbatasan biasanya lebih bijaksana.
Kepemimpinan yang Dibentuk oleh Perjalanan
Ketika Yusuf akhirnya berdiri di hadapan raja, ia bukan lagi anak muda yang dulu bermimpi di rumah ayahnya.
Ia adalah seseorang yang telah melewati, pendidikan iman dari keluarganya lalu dilengkapi dengan pendidikan sosial dari lingkungan istana serta jangan lupakan pendidikan karakter dari ujian kehidupan
Semua fase itu bertemu dalam satu pribadi yang matang.
Inilah yang membuat permintaannya untuk mengelola perbendaharaan negeri terasa wajar. Ia tidak hanya memiliki pengetahuan tentang masa depan, tetapi juga memiliki integritas untuk menjaga amanah.
Dalam parenting, kisah ini memberikan satu pelajaran besar.
Anak tidak hanya dibentuk oleh masa nyaman dalam keluarga. Ia juga dibentuk oleh pengalaman hidup yang sulit.
Tugas orang tua bukan melindungi anak dari semua kesulitan, tetapi menanamkan nilai yang cukup kuat agar mereka mampu melewati kesulitan itu tanpa kehilangan jati diri.
Pada diri Yusuf kita melihat bagaimana pendidikan keluarga, pengalaman sosial, dan ujian kehidupan bersatu membentuk seorang pemimpin.
Dan sering kali, perjalanan menuju kepemimpinan memang harus melewati fase terang dan fase gelap.
Keduanya sama-sama penting.
