Optimisme ekonomi juga tercermin dari pertumbuhan sektor riil, khususnya industri otomotif dan konsumsi rumah tangga.
Penjualan sepeda motor pada Desember 2025 tercatat tumbuh sekitar 14 persen, sementara penjualan mobil meningkat lebih dari 3 persen.

“Khusus untuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sektor pertambangan masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah, terutama komoditas timah,” terangnya.

Namun demikian, pemerintah juga mendorong hilirisasi melalui pembangunan smelter agar aktivitas pertambangan tidak hanya berhenti pada ekspor bahan mentah.

“Investasi pada industri pengolahan akan memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja baru,” ujarnya.

Selain sektor tambang, pariwisata juga dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Bangka Belitung dengan keunggulan pantai berpasir putih yang mampu bersaing dengan destinasi populer seperti Bali dan Lombok.

Baca Juga  Sinergi Bank Indonesia dan PKK Cikar Dorong Good Agricultural Practices Melalui Launching Program Digital Farming di Babel

Hosianna menilai koordinasi kebijakan fiskal melalui peningkatan belanja pemerintah serta kebijakan moneter yang menjaga likuiditas menjadi kunci menjaga momentum ekonomi.

Dengan sinergi tersebut, target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,2 persen pada 2026 dinilai masih realistis untuk dicapai.

“Strategi menghadapi ketidakpastian global adalah dengan menjaga optimisme, memperkuat komitmen kebijakan serta meningkatkan sinergi antar instansi,” tutup Hosiana.*