Namun, tantangan mudik di Tanjung Kalian bukan hanya soal volume kendaraan. AKBP Aditya menjelaskan sebuah variabel alam yang tak bisa dilawan manusia: pasang surut air laut.

Inilah alasan mengapa terkadang antrean memanjang—bukan karena lambatnya pelayanan, melainkan karena alam menentukan kapan kapal bisa bersandar dengan sempurna.

“Kondisi masih terkendali dan kondusif,” ujar AKBP Pradana Aditya Nugraha dengan nada tenang di tengah kepadatan.

Baginya, setiap unit kendaraan yang naik ke kapal adalah satu cerita keluarga yang selangkah lebih dekat dengan tujuan. Petugas di lapangan kini bersiaga penuh, mengingat gelombang pertama puncak arus mudik diprediksi akan terus mengalir deras hingga esok hari.

Hingga senja mulai turun di ufuk barat Mentok, belum ada laporan insiden berarti. Tanjung Kalian tetap sibuk, tetap dinamis, namun tetap aman. Di bawah pengawalan Operasi Ketupat Menumbing, 1.030 pemudik pertama telah berlayar, membawa sejuta cerita untuk disampaikan di meja makan keluarga di seberang sana.

Baca Juga  Meriahkan Rebokasan Teluk Limau: Mahasiswa KKN Unmuh Babel Hadirkan Spot Swafoto Kekinian