Debu di Balik Wudu
Oleh: Puput Munawaroh — Pengajar di SDIT Alam Cahaya
Himpitan zaman yang penuh kerumitan ini terkadang membuat kita tak berdaya. Kegelisahan tidak jarang menjadi racun yang sulit dihilangkan. Kegalauan adalah hal buruk yang kerap menghantui, yang pada akhirnya membuat kenyamanan terasa sulit ditemukan.
Namun, tak perlu risau selama kita masih beriman. Sebab dalam agama Islam terdapat banyak cara untuk menemukan kebahagiaan. Agama memberikan berbagai solusi agar manusia dapat lepas dari kegelisahan dan kegalauan. Salah satu di antaranya adalah dengan menyegarkan diri melalui wudhu.
Membersihkan diri, baik jiwa maupun fisik, memiliki pengaruh besar dalam pembentukan diri maupun pengendalian diri. Karena itu, Islam menjanjikan kemenangan dan keberuntungan yang besar bagi seseorang yang beriman ketika ia berhasil membersihkan dirinya dari dorongan nafsu dan syahwat yang menjauhkannya dari jalan Tuhan-Nya yang lurus.
Dunia yang Semakin Gaduh
Di zaman ini kita sering menyebutnya sebagai zaman modernisasi. Sebuah zaman yang sangat berbeda dengan masa kecil kita beberapa tahun silam, atau bahkan dengan zaman orang tua kita dahulu. Zaman ini telah jauh dari jejak kehidupan nenek moyang kita yang belum mengenal pengetahuan modern.
Kehidupan hari ini adalah kehidupan yang serba mudah dan serba terkoneksi. Pengetahuan manusia semakin luas dan merata, tidak hanya terbatas pada kalangan priyayi atau bangsawan saja.
Namun entah mengapa, zaman yang kita sebut maju ini tidak serta-merta membuat kita semakin beradab. Zaman ini tidak selalu menjadikan manusia lebih pandai bertoleransi atau lebih mampu menghargai orang lain. Pengetahuan yang melimpah pun tidak selalu membuat manusia menjadi lebih dewasa.
Sebaliknya, zaman yang kita sebut maju ini justru sering dipenuhi kegaduhan yang menimbulkan perselisihan. Di mana-mana ada pertikaian. Dari level masyarakat awam hingga para penguasa, selalu saja muncul sengketa. Di pedesaan terjadi perebutan lahan, di kota muncul berbagai konflik. Dalam dunia politik, perselisihan bahkan terasa semakin tajam.
Berita yang setiap hari tersebar hampir tidak pernah lepas dari persoalan dan pertikaian. Selalu ada saja masalah yang membuat kita prihatin, membayangkan seperti apa kehidupan generasi masa depan nanti.
Kegaduhan tentu menimbulkan perih di hati dan sesak di dada. Ia menjadi beban dalam kehidupan sosial kita. Kegaduhan itu seakan menyisakan debu-debu pada tubuh persaudaraan kita. Dan pada akhirnya kita pun merasa lelah dengan semua kegaduhan itu. Jiwa kita lelah, hati kita lelah, perasaan kita lelah, dan pikiran kita pun lelah.
Semua seakan dipenuhi debu oleh kegaduhan dan perselisihan. Karena itulah kita perlu menenangkan diri, membersihkannya, dan menyejukkannya, salah satunya dengan memperbanyak wudhu.
Ramai, tetapi Sepi
Tenang dan sepi adalah dua hal yang berbeda. Tenang adalah jeda waktu di tengah berbagai persoalan, keramaian, dan kesibukan. Sedangkan sepi justru bisa kita rasakan di tengah kehidupan yang ramai.
Sepi bisa bermakna keterasingan di tengah suasana yang hiruk-pikuk. Seorang lansia yang tinggal tanpa teman seusianya dapat merasa kesepian meskipun ia berada di tengah keramaian cucu-cucunya.
Kita membutuhkan saat-saat tenang, tetapi kita tidak ingin merasa kesepian. Orang tua kita di usia lanjut membutuhkan ketenangan bersama anak-anaknya, bukan sekadar berada di tengah keramaian yang hampa makna.
Keberadaan kita di zaman yang ramai ini terkadang seperti itu. Dunia terasa riuh rendah. Di mana-mana kita menemukan keramaian. Ramai bukan hanya karena manusia, tetapi juga karena informasi, teknologi, serta transportasi yang lalu lalang tanpa henti.
