Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 28): Hikmah di Balik Siasat
Hikmah di Balik Siasat Yusuf (QS. Yusuf: 70–76)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali
Di tengah kisah penahanan Bunyamin di Mesir, muncul satu pertanyaan yang sering muncul di benak kita sebagai pembaca.
Mengapa Nabi Yusuf melakukan siasat itu?
Mengapa ia tidak langsung memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya? Mengapa ia menempatkan piala kerajaan di dalam karung Bunyamin sehingga peristiwa penahanan itu terjadi?
Pertanyaan ini wajar. Apalagi jika kisah ini dibaca dari sudut pandang moral dan kejujuran.
Namun Al-Qur’an sendiri memberikan petunjuk penting tentang peristiwa ini.
“Demikianlah Kami mengatur untuk Yusuf. Ia tidak dapat menahan saudaranya menurut hukum raja, kecuali jika Allah menghendaki.”
(QS. Yusuf: 76)
Ayat ini memberi satu penjelasan mendasar. Peristiwa ini bukan sekadar rencana pribadi Yusuf. Ini adalah bagian dari pengaturan Allah.
Seolah Al-Qur’an ingin mengatakan bahwa di balik strategi itu ada hikmah yang lebih besar yang sedang disiapkan.
Dalam berbagai penjelasan tafsir disebutkan bahwa Yusuf tidak mungkin menahan Bunyamin secara langsung menurut hukum yang berlaku di Mesir saat itu. Ia membutuhkan cara yang sah agar saudaranya dapat tetap tinggal bersamanya.
Namun jika kita melihat kisah ini secara lebih luas, strategi itu bukan hanya soal hukum. Ia juga menyentuh sisi yang lebih dalam: perubahan hati dalam sebuah keluarga.
Saudara-saudara Yusuf pernah melakukan kesalahan besar di masa lalu. Mereka pernah menyingkirkan Yusuf karena rasa iri dan kecemburuan.
Jika Yusuf langsung membuka identitasnya saat pertama bertemu mereka, mungkin pertemuan itu akan dipenuhi rasa terkejut, malu, atau bahkan ketakutan. Tetapi perubahan hati yang sebenarnya belum tentu terjadi.
Karena itu kisah ini bergerak dengan cara yang sangat halus.
Yusuf tidak terburu-buru membuka dirinya. Ia membiarkan peristiwa berjalan sehingga saudara-saudaranya menghadapi sebuah ujian baru.
Ujian itu sederhana tetapi sangat menentukan. Apakah mereka akan meninggalkan Bunyamin seperti dulu mereka meninggalkan Yusuf?
Peristiwa penahanan Bunyamin menjadi semacam cermin bagi masa lalu mereka.
Dan menariknya, respons mereka kini sangat berbeda.
