Oleh: Dindra Rianza – Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Kalau sekarang kita coba bertanya ke anak-anak muda tentang cita-cita mereka, jawabannya mungkin sudah jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Ada yang ingin jadi content creator, pebisnis online, programmer, atau bekerja di perusahaan besar dengan gaji tinggi. Tapi, keinginan untuk menjadi guru mulai jarang terdengar. Padahal dulu, profesi ini sering dianggap sebagai panggilan yang mulia dan penuh makna.

Perubahan ini bukan sekadar perasaan semata. Survei dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menunjukkan bahwa hanya sekitar 11% generasi muda yang tertarik menjadi guru. Angka ini tentu bukan angka kecil jika dilihat dari dampaknya. Artinya, ada penurunan minat yang cukup serius terhadap profesi yang sebenarnya memegang peran penting dalam masa depan pendidikan.

Baca Juga  "Menang Segek, Kalah Pancak"

Yang membuat situasi ini terasa semakin ironis adalah kenyataan bahwa Indonesia justru sedang kekurangan tenaga guru. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyebutkan bahwa Indonesia diperkirakan kekurangan sekitar 374 ribu guru pada tahun 2024. Kekurangan ini sebagian besar disebabkan oleh banyaknya guru yang memasuki masa pensiun, sementara jumlah tenaga pendidik baru tidak mampu menutup kebutuhan yang ada. Bayangkan jika kondisi ini terus terjadi kelas-kelas akan semakin penuh, beban guru semakin berat, dan kualitas pembelajaran bisa ikut menurun. Pada akhirnya, yang dirugikan bukan hanya guru, tetapi juga para siswa yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya alasan kenapa banyak anak muda tidak tertarik menjadi guru cukup bisa dimengerti. Salah satu yang paling sering dibicarakan adalah soal kesejahteraan. Masih banyak guru, terutama yang berstatus honorer, yang menerima gaji jauh dari kata cukup. Di tengah kebutuhan hidup yang semakin tinggi, kondisi ini tentu membuat profesi guru terlihat kurang menjanjikan. Belum lagi soal jenjang karier yang sering dianggap tidak jelas, serta beban kerja yang tidak sedikit. Dari luar, profesi ini mungkin terlihat sederhana hanya mengajar di kelas padahal di balik itu ada banyak tanggung jawab yang harus dipikul.

Baca Juga  Juvenile Delinquency sebagai Dampak Teori Labelling Negatif dalam Keilmuan Sosiologi-Kriminologi