Perjalanan menuju Simpang Gedong, sebuah daerah yang dahulunya menjadi momok karena terkenal dengan aktivitas yang membuat para ibu-ibu khawatir. Apalagi bila suami bekerja di seputaran areal itu. Namun, seiring perjalanan waktu, rumah-rumah singgah itu hilang satu per satu karena dimakan usia atau ditinggalkan. Ada tersisa satu rumah yang sekarang masih tampak kokoh dan bertambah fungsinya menjadi warung singgah di persimpangan. Letaknya yang strategis dengan simpang tiga, mungkin bisa jadi menjadi daya tarik bagi musafir untuk singgah ngopi atau sekadar makan mie untuk mengganjal perut.

Ummi mengamati, kalau sepintas sih, aktivitas itu berjalan biasa saja seperti warung-warung singgah pinggir jalan biasanya. Sajiannya juga biasa saja, terlepas dari kegiatan mereka bertahun panjang yang lalu. Tidak berani mendekat soalnya. Pernah punya pengalaman saat berkendaraan malam di daerah situ, melihat fenomena di luar kewajaran.

Baca Juga  Fatamorgana

“Bi, sekarang tempat ini ada warungnya. Tapi pas pagi-pagi kita lewat sini, yang jaga perempuan hanya pakek daleman. Masak jualan kayak gitu pakaiannya?” Ummi berkomentar dengan hasil pengamatannya.

“Ya, bagian dari menyenangkan orang lain. Menyenangkan orang lain kan berpahala, Mi,” Paksu tertawa.

“Waaah, gak betul ini. Berpahala versi Dajjal? Kalau gitu, Ummi menyenangkan orang lain berpahala gitu?” marah Ummi.

“Eh, eh, gak gitu, ampuuun. Hehe. .. maaf bercanda.” Paksu menangkupkan tangannya melepas setir mobil. Untung mobil berjalan di jalan lurus. Masih aman lepas setir.

“Ya, menyenangkan orang lain, terutama para lelaki itu sama saja hukumnya dengan zina!” cebik Ummi kesal.

Baca Juga  Gumpalan Aksara

Sedangkan yang barusan bicara, cuma raut mukanya dengan garis senyum samar, bibir gerak-gerak nahan tawa, matanya seakan fokus mengendarai mobil tetapi ekornya sepintas-sepintas melirik Ummi yang sedang melotot.

Akhirnya terdengar bunyi, “Iya, iya, salah ucap. Gitu aja bete, hahaha.” Ditutup tertawa karena tidak tahan dengan menunda-nunda tertawa dari tadi.

Harapannya, semoga di simpang itu aktivitas yang berlangsung adalah aktivitas warung singgah pinggir jalan biasa, bukan aktivitas plus-plus. Meskipun ini adalah sebuah harapan, dan harapan adalah doa, semoga saja hal ini dapat dikabulkan. Ada pelajaran yang dapat diambil dari kisah-kisah para penghuni kuburan di sebelah bangunan rumah tersebut. Dan semoga mereka diberi hidayah dan petunjuk agar berada di jalur lurus saja meski simpangnya ada tiga.

Baca Juga  Untuk Cerita yang Belum Usai