Penetapan harga ini dilakukan setiap dua pekan dan menjadi agenda rutin untuk memberikan kepastian harga bagi petani sawit dan para mitra atau perusahaan sawit di wilayah Bangka Belitung.

“Banyak faktor yang kita lihat dalam menentukan harga TBS dan rapat penetapan harga ini kita gelar rutin setiap dua pekan,” ujarnya.

Menurutnya selalu ada dinamika harga di antara petani dan perusahaan, kondisi saat ini juga dipengaruhi oleh kenaikan biaya transportasi dan harga BBM juga beberapa faktor teknis dan ekonomi yang mempengaruhi harga di tingkat pabrik seperti rendemen atau kadar minyak dari buah sawit.

“Kualitas buah sangat mempengaruhi kualitas minyaknya karena buah yang bagus secara fisik belum tentu menghasilkan minyak yang optimal jika dipanen belum matang,” terang Isa.

Baca Juga  Dinkes Babel Sebut BAB Sembarangan Faktor Penyebab Stunting, Beltim Deklarasikan ODF

Ia menambahkan, pembangunan pabrik untuk pengolahan atau hilirisasi sedang dipertimbangkan agar tidak hanya pabrik pengolahan CPO saja, ada industri hilir juga agar nilai tambah lebih besar dan tidak biaya transportasi pengiriman keluar tidak terbebani.

“Ketergantungan Babel pada pengiriman CPO (Crude Palm Oil) ke luar daerah juga mempengaruhi kondisi karena membuat ongkos logistik membengkak, jadi muncul usulan yang kuat, pentingnya hilirisasi di Bangka Belitung,” tutup Isa.*