Menajamkan Refleks Medis di Ujung Barat Bangka, Kala Dokter Umum Kembali ke ‘Meja Belajar’
Dalam dunia medis yang dinamis, stagnasi adalah risiko. dr. Dia menekankan bahwa sikap cepat tanggap tidak muncul begitu saja, melainkan harus dipupuk melalui pembaruan tatalaksana yang terus diperbarui.
“Tujuannya agar teman-teman dokter umum di fasilitas pertama bisa lebih update dengan ilmu pengetahuan terbaru. Ini soal bagaimana kita memberikan peluang hidup yang lebih besar bagi pasien melalui tindakan pertama yang benar,” tambahnya.
Kegiatan ini menjadi istimewa karena materi tidak disampaikan secara kaku. Para dokter spesialis RSBT Mentok turun langsung membagikan pengalaman klinis mereka—kasus nyata yang mereka tangani di ruang operasi dan IGD—kepada para sejawat dokter umum.
Dialog dua arah ini menciptakan transfer ilmu yang lebih komprehensif, melampaui sekadar teks di buku panduan.
Langkah RSBT Mentok ini pun menegaskan peran mereka bukan sekadar rumah sakit rujukan, melainkan “rumah edukasi” bagi tenaga medis di Bangka Barat.
Menutup kegiatan, dr. Dia berharap semangat belajar ini tidak berhenti di Gedung Sriwijaya.
“Kami ingin kegiatan ini berkelanjutan. Sebab, kualitas pelayanan kesehatan masyarakat Bangka Barat sangat bergantung pada seberapa tajam kesiapan para tenaga medisnya dalam menghadapi situasi paling kritis sekalipun,” pungkasnya.
Sekadar diketahui kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber. Mulai dari dr. Isna Panca Bayu K, Sp. A, dr. Fatrisia, Sp.OG, dr. Fauzan Azhari, Sp.PD, FISQUa, AIFO-K, dr. Lesti Marliana, Sp.N, dr. Riko, Sp.An-Ti, dan dr. Srigunda Arisya Fadila, Sp.B.
