Kini namamu bukan sekadar aksara yang membumi di hati
Ia adalah napas yang meniup ruh pada martabat yang nyaris mati.

Kau pekikkan pada telinga sejarah yang sering kali tuli:
Bahwa ayu bukan sekadar gincu atau riasan rupa
Melainkan nyala akal budi, yang cahayanya takkan pernah dilupa

Perempuan adalah rahim peradaban, detak jantung sang waktu,
Perempuan berhak menggenggam ilmu, menenun mimpi, dan mengekalkan rungu.

Di tanganmu, pena adalah sebilah fajar yang tak kunjung usai,
Memerdekakan langkah dari gelapnya karsa yang lama terurai

Baca Juga  Sang Pemancar Sinar