Emansipasi Naik Level: Dari Perjuangan Membuka Pintu Menuju Perjuangan Kesetaraan
Tantangan Baru yang Lebih “Halus” Namun Berat
Meski pintu sudah terbuka, bukan berarti perjuangan selesai. Seperti yang diungkapkan oleh aktris dan aktivis Cinta Laura, tantangan zaman sekarang justru lebih halus namun bobotnya sangat berat. Kita kini dihadapkan pada standar ganda, ekspektasi sosial yang tidak masuk akal, dan tekanan psikologis.
Ada stigma yang menuntut perempuan harus “sempurna”—harus sukses berkarir, tapi tetap harus terlihat lemah lembut; harus tegas memimpin, tapi tetap harus rendah hati; harus mandiri, tapi tetap tergantung. Ini adalah bentuk penindasan modern yang tidak terlihat tapi sangat melelahkan.
Senada dengan itu, Anggota DPD RI Andi Nirwana menegaskan bahwa emansipasi hari ini bukan lagi soal izin, tapi soal kesetaraan. “Apakah kita sudah benar-benar diperlukan sama? Apakah hak dan kewajiban sudah berjalan berimbang?” Itulah pertanyaan besarnya.
Pekerjaan Rumah yang Belum Selesai
Jika kita melihat realitas di lapangan, terutama di daerah seperti Sumatera dan sekitarnya, masih banyak PR besar yang menanti. Masih ada kasus pernikahan dini yang memutus masa depan pendidikan anak perempuan. Masih ada budaya yang membatasi ruang gerak wanita untuk berkarya. Di dunia kerja, diskriminasi upah dan peluang promosi masih sering terjadi. Representasi di posisi puncak kepemimpinan pun belum sepenuhnya seimbang.
Oleh karena itu, semangat Kartini itu tidak pernah usai, ia hanya “naik level”.
Dulu, levelnya adalah Quest membuka pintu yang terkunci rapat. Sekarang, levelnya adalah Boss Battle mempertahankan ruang, menjaga martabat, dan memastikan bahwa di dalam ruangan yang sudah terbuka itu, kita merasa aman, dihargai, dan bisa tumbuh utuh tanpa harus mengorbankan jati diri atau feminitas kita.
Refleksi untuk Palembang dan Sekitarnya
Di Kota Palembang dan wilayah Sumatera Selatan pada umumnya, perubahan mana yang paling Anda rasakan? Apakah di bidang pendidikan di mana kita melihat begitu banyak gadis-gadis muda berprestasi dan melanjutkan studi ke jenjang tinggi? Atau justru di bidang ekonomi, di mana kita melihat betapa tangguhnya perempuan Sumatera dalam menggerakkan roda perekonomian keluarga dan masyarakat?
Semoga peringatan Hari Kartini tidak hanya menjadi seremonial belaka, tetapi menjadi pengingat bahwa perjuangan kesetaraan adalah tanggung jawab kita bersama, laki-laki maupun perempuan, untuk menciptakan Indonesia yang lebih adil dan beradab. (**)
