“Jangan malah menjadi pesimis. Yang lebih penting sekarang adalah memastikan kawasan ini benar-benar hidup, produktif, dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan ekonomi lokal,” tegas suami Liana Tirta Anda Lusia tersebut.

Ia mengajak masyarakat untuk menggeser narasi pesimisme menjadi optimisme melalui tiga poin utama.

“Dari ragu menjadi terlibat. Pertama itu masyarakat diharapkan tidak hanya mengkritik, tetapi aktif menjaga, mempromosikan, dan memanfaatkan kawasan tersebut. Kedua milik bersama, keberhasilan tidak diukur dari megahnya bangunan, melainkan dari hidupnya aktivitas ekonomi dan budaya di dalamnya,” katanya.

Yang ketiga, lanjut wakil rakyat dari Dapil Kecamatan Mentok itu, adalah visi jangka panjang. Dalam artian, menyadari bahwa dampak ekonomi tidak terjadi secara instan, melainkan butuh proses, konsistensi, dan kolaborasi lintas sektor.

Baca Juga  Remaja SMP di Mentok Dikabarkan Akhiri Hidup dengan Seutas Tali

Klaster Eropa diharapkan mampu menjadi ikon baru yang mempertegas identitas Mentok sebagai kota sejarah. Namun, Deddi mengingatkan bahwa sinergi adalah harga mati agar pembangunan ini berkelanjutan.

“Ini bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi peluang besar mengubah wajah Kota Mentok untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peluang ini harus kita jaga dan kawal bersama,” tambah pria yang pernah duduk di DPRD Bangka Belitung periode 2014-2019 lalu tersebut.

Dengan perencanaan yang matang dan pengelolaan profesional, Klaster Eropa bukan lagi sekadar mimpi tentang masa lalu, melainkan mesin penggerak ekonomi masa depan Bangka Barat. Kawasan ini adalah milik bersama, dan keberhasilannya berada di tangan setiap warga yang mau bergerak dari sekadar penonton menjadi pemain.

Baca Juga  Hari ini Brimob akan Musnahkan Granat yang Ditemukan di Mentok