Menguak Kuasa Simbolik Rambut Batin Tikal dalam Persembahan Budaya Sanggar Buluh Perindu
Di bawah produksi Dr. Rita Zahara dan arahan sutradara Yosep Sonjaya, pementasan ini menjanjikan pengalaman estetis yang mendalam. Narasi sejarah disulam dengan simbolisme kuat, khususnya terkait “rambut keramat” sebagai pusat kuasa spiritual dan politik Batin Tikal.
Tim kreatif yang terdiri dari penata musik, artistik, dan kostum bekerja keras membangun atmosfer magis yang emosional.
Para pemain, yang dipilih dari deretan talenta terbaik, akan menghadirkan penghayatan total untuk menghidupkan energi baru bagi pesan lama yang nyaris terlupakan.
Untuk memperkaya perspektif historis, pertunjukan juga akan menghadirkan narasumber khusus, Datok Akhmad Elvian, DPMP, sejarawan Bangka Belitung, yang memberikan konteks sejarah dan budaya yang lebih dalam kepada penonton.
Bagi keturunan sang tokoh, pementasan ini adalah momen yang cukup membanggakan.
Sani (53), salah satu keturunan Batin Tikal, menyatakan dukungan penuhnya.
“Saya sangat tersentuh dan bangga kisah ini diangkat ke panggung. Ini bukan sekadar cerita keluarga, tapi sejarah perjuangan masyarakat Bangka,” ucapnya dengan nada bangga.
Dr. Rita Zahara, selaku produser, melihat pementasan ini sebagai batu loncatan.
“Teater ini adalah langkah awal. Ke depan, bila ada dukungan yang kuat, kami ingin mengembangkan kisah Batin Tikal dan pejuang lainnya ke dalam bentuk film agar jangkauannya lebih luas. Tapi sebelum itu, mari kita ramaikan panggungnya, karena dari sinilah cerita ini hidup dan berbicara langsung kepada penonton,” ungkapnya.
Undangan Terbuka untuk Merawat Memori Bangsa
Mengapa pertunjukan ini penting? Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.
Di saat kisah perjuangan lokal sering terpinggirkan, “Batin Tikal” hadir sebagai pengingat bahwa identitas dan jati diri bangsa tersimpan dalam pengorbanan para leluhur.
“Kami mengajak masyarakat umum, pemerintah provinsi kabupaten maupun kota, para politisi, mahasiswa dan siswa SMA/SMK untuk menyaksikan karya monumental ini dengan tiket yang sangat terjangkau, yakni Rp20.000. Harga ini bukanlah biaya masuk, melainkan investasi kecil untuk mendapatkan pengalaman batin dan refleksi sejarah yang tak ternilai”, ujar Rita Zahara
Jangan lewatkan kesempatan ini. Mari bersama-sama menghidupkan kembali semangat Batin Tikal. Karena menghargai pejuang bukan sekadar mengenang nama mereka, melainkan melanjutkan nilai-nilai perjuangan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
