Hingga jenazah Agus dikebumikan dan doa tahlil dibacakan pada Selasa malam, tidak ada itikad baik dari manajemen perusahaan untuk mendatangi keluarga yang tengah berduka.

“Tidak ada yang datang. Cuma rekan-rekan kerja (sesama buruh) yang hadir. Mereka baru sekarang mau datang setelah kami viralkan? Padahal mereka punya nomor ponsel suami saya,” ungkap Linda kecewa.

Kata Linda, selama dua tahun bekerja, Agus harus menempuh perjalanan jauh dari Kelurahan Kelapa ke Desa Maras Senang karena permohonan fasilitas mess yang diajukannya selalu berujung buntu.

Agus adalah tulang punggung keluarga. Ia meninggalkan seorang anak yang masih kecil. Bagi Linda, kematian suaminya menyisakan tanda tanya besar mengenai standar keselamatan kerja di PT PMM.

Baca Juga  Rapat Paripurna DPRD Bangka Tengah Molor Lagi, Wakil Bupati Dibuat Menunggu 1 Jam Lebih

Lebih memilukan lagi, saat keluarga mendatangi pabrik pasca kejadian, mesin-mesin masih beroperasi normal. Produksi baru dihentikan setelah pihak keluarga datang memprotes.

“Kami minta keadilan seadil-adilnya. Beliau yang mencari nafkah untuk kami. Kami berharap pabrik ditutup dulu sampai masalah ini jelas. Bagaimana kronologinya, kenapa ini bisa terjadi, kami berhak tahu,” tegas Linda.

Timelines.id berupaya mengonfirmasi manajemen PT PMM terkait statemen yang disampaikan istri korban.

Media ini juga membuka ruang klarifikasi kepada PT PMM sebagai perimbangan sesuai kode etik jurnalistik dan UU Pers No 40 tahun 1999.