Penolakan kampus dan kekalahan lomba yang sempat membuatnya ragu tak mampu menghentikan mimpinya.

“Saya sadar, kalau saya berhenti, maka cerita anak petani dari Bangka Selatan akan berhenti di situ juga. Karena itu saya memilih untuk terus bergerak. Satu medali, satu piala, satu langkah kecil saya anggap sebagai bukti bahwa anak buruh tani juga berhak berdiri di podium nasional, berhak kuliah di UGM, dan berhak bercita-cita membangun peternakan modern untuk kampung halaman,” ungkapnya.

Erik percaya bahwa mimpi tidak mengenal latar belakang. Lahir dari keluarga petani dengan penghasilan yang harus dipotong utang setiap bulan bukan alasan untuk takut bermimpi tinggi.

“Justru dari ladang dan keringat ayah saya belajar arti kerja keras, dari sisa uang Rp263.000 saya belajar arti bersyukur dan bertahan,” ceritanya.

Baca Juga  Pemkab Basel Sambut Hangat 29 Mahasiswa KKN UGM di Pulau Besar

Erik berpesan untuk diri sendiri dan teman-teman seperjuangan bahwa jangan takut untuk bermimpi tinggi walau kita lahir dari latar belakang seorang anak petani.

“Latar belakang boleh sederhana, tapi tekad dan usaha tidak boleh ikut sederhana. Sebab dari tanah yang sama tempat ayah saya menanam, saya juga sedang menanam mimpi. Dan saya yakin, mimpi itu akan tumbuh,” pesan.

Selamat Erik untuk prestasi hebatnya.