Dari situ aku paham: bertahan bukan tentang mengetuk pintu yang sudah dikunci dari dalam. Bertahan adalah tentang memastikan sumurmu tetap berair, agar saat kau berjalan jauh, kau tak mati kehausan di tengah jalan.

Maka ketika tanah di seberang sana mengirim kabar bahwa ia butuh penanam, aku kemasi cangkul dan biji-biji yang sudah kusemai dalam sepi. Kutinggalkan jejak berupa bangku yang rapi dan kapur yang tak berserak. Pergi bukan karena benci pada tanah yang lama, tapi karena sadar: pohon yang sama, kadang harus pindah agar bisa berbuah.

Di tanah seberang, aku tak banyak bicara tentang musim kemarin. Aku hanya buka lubang baru, kubenamkan biji yang sama, dengan doa yang sama: semoga kali ini, hujan turun tepat waktu.

Baca Juga  Manusia

Menata hati itu seperti melipat baju yang sudah tak muat: bukan dibuang, tapi disimpan baik-baik sebagai pengingat bahwa badan kita sudah tumbuh.

Dan kadang, mengalah bukan karena kita lemah. Tapi karena akar tahu, ia berhak mencari air yang lebih jernih.