Jejak Sejarah Perjuangan Batin Tikal Kembali Hidup Lewat Panggung Teater Sanggar Buluh Perindu
Rektor Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Fadillah Sabri, menegaskan pentingnya mengenalkan sejarah Batin Tikal kepada generasi muda.
“Tahun 1983 saya pernah memerankan Batin Tikal saat masih SMP. Saat itu belum banyak siswa mengenalnya. Karena itulah pada tahun 1986 drama Batin Tikal kembali kami tampilkan saat mengikuti Jambore Nasional di Cibubur, Jakarta,” ungkapnya penuh semangat.
Ia berharap semangat perjuangan yang ditampilkan sore itu dapat membangkitkan kesadaran generasi muda agar lebih mengenal sejarah bangsanya sendiri.
“Hari ini Batin Tikal hadir di tengah-tengah kita membawa semangat perlawanan yang dikemas begitu baik. Saya berharap generasi muda mampu terus menggaungkan sejarah bangsanya sendiri,” lanjutnya.
Pertunjukan “Kuasa Simbolik Rambut Keramat Batin Tikal” bukan sekadar seni pertunjukan.
Teater ini menjadi pengingat tentang perjuangan rakyat Bangka melawan kolonialisme di tanah yang kaya akan timah, tetapi hasil kekayaannya justru lebih banyak dirampas bangsa asing daripada dinikmati rakyatnya sendiri.
Mewakili Wali Kota Pangkalpinang, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setdako Pangkalpinang, Agustu Apendi, menyampaikan rasa bangga dan harunya terhadap pementasan tersebut. Bahkan, di tengah sambutan, ia tampak beberapa kali menahan haru.
“Batin Tikal merupakan bagian penting dari sejarah Bangka Belitung yang harus terus dijaga. Kami sangat berterima kasih kepada Ibu Rita Zahara dan seluruh tim yang telah menghidupkan kembali kisah perjuangan beliau melalui pementasan ini,” ujarnya.
Ia juga berharap perjuangan Batin Tikal suatu hari dapat memperoleh penghormatan lebih besar dari negara.
“Kami berharap Batin Tikal suatu saat dapat dianugerahi gelar pahlawan nasional,” tambahnya.
Di antara penonton yang hadir, tampak pula seorang guru dari SMA Negeri 1 Simpang Rimba, Kiki Saputra, yang rela datang dari Bangka Selatan demi menyaksikan pertunjukan tersebut.
Menurutnya, pementasan ini menjadi media yang sangat menarik untuk menggali sejarah lokal Bangka Belitung.
“Ini teater yang luar biasa. Sangat menarik untuk mengulik sejarah Bangka Belitung. Batin Tikal dikenal sebagai pejuang hebat yang memperjuangkan tanah Bangka dari penjajahan Belanda,” ungkapnya.
Sore itu, Gedung Sofyan Tsauri dipenuhi tepuk tangan dan sorak kagum penonton. Wajah-wajah puas terlihat jelas setelah pertunjukan berakhir.
Hujan di luar gedung masih setia turun, seakan ikut menjadi saksi kebangkitan kembali nama besar Batin Tikal.
Sore itu, Batin Tikal bukan hanya hadir sebagai sebuah pertunjukan teater. Ia menjelma menjadi jembatan yang mempertemukan sejarah, budaya, dan masyarakat Bangka Belitung, menghidupkan kembali semangat perjuangan Batin Tikal lewat bahasa seni yang menggugah hati.
