Oleh: M. Bachtiyar, S.Pi., MT — Pengajar Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali, Bangka Selatan

KHUTBAH PERTAMA IDULADHA

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،

فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فاتقوا الله حق التقوى، واعلموا أن خير الزاد ليوم المعاد تقوى الله.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر الله أكبر ولله الحمد.

 Jamaah Iduladha rahimakumullah

Pada pagi yang penuh keberkahan ini kita berkumpul untuk mengagungkan Allah, bertakbir memuji kebesaran-Nya, serta mensyukuri nikmat iman dan Islam yang telah Allah karuniakan kepada kita.

Hari ini bukan sekadar hari raya. Hari ini adalah hari yang mengingatkan umat manusia tentang makna pengorbanan, keikhlasan, ketundukan, dan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى.

Allah Ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah, termasuk shalat dan penyembelihan kurban. Berbeda dengan orang-orang musyrik yang beribadah dan berkurban untuk selain Allah. Dengan demikian, kurban adalah simbol penghambaan dan ketundukan total kepada Allah semata. (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. Al-Kautsar: 2)

Karena itu, sejak dahulu hingga hari ini, syariat kurban menjadi salah satu syiar terbesar Islam yang menunjukkan bahwa seorang hamba rela mengorbankan sebagian hartanya demi mencari ridha Allah.

Baca Juga  Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 1)

 

 الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Jamaah yang dimuliakan Allah

Ketika berbicara tentang kurban, pikiran kita langsung tertuju kepada sosok agung yang menjadi teladan sepanjang zaman, yaitu Nabi Ibrahim عليه السلام.

Beliau adalah seorang nabi yang diuji dengan ujian yang sangat berat.

Dalam usia yang telah lanjut, setelah sekian lama menanti keturunan, Allah menganugerahkan seorang putra yang sangat dicintainya, yaitu Nabi Ismail عليه السلام.

Namun ketika Ismail mulai tumbuh menjadi anak yang kuat, cerdas, dan menjadi harapan keluarga, Allah memberikan ujian yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Allah berfirman:

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”

Lalu Ismail menjawab:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Menurut Imam Ath-Thabari, jawaban Nabi Ismail menunjukkan puncak ketundukan seorang hamba kepada Allah. Beliau tidak membantah, tidak menolak, tidak pula mempertanyakan hikmahnya. Beliau menerima perintah Allah dengan penuh keimanan dan kesabaran. (Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, tafsir QS. Ash-Shaffat: 102)

Perhatikanlah wahai kaum muslimin.

Yang Allah uji bukanlah sesuatu yang tidak dicintai Ibrahim.

Justru yang diuji adalah sesuatu yang paling beliau cintai.

Anak yang dinanti puluhan tahun.

Anak yang menjadi kebahagiaan hidupnya.

Anak yang menjadi harapan masa depannya.

Seakan Allah ingin mengajarkan kepada umat manusia sepanjang zaman bahwa tidak boleh ada sesuatu pun yang lebih dicintai daripada Allah dan perintah-Nya.

Baca Juga  Trauma Kehilangan dan Ketangguhan Jiwa

Lalu Allah berfirman:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya.”
(QS. Ash-Shaffat: 103)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “aslama” adalah ketika Ibrahim dan Ismail sama-sama menyerahkan diri sepenuhnya kepada keputusan Allah. Tidak ada keraguan, tidak ada penolakan, tidak ada tawar-menawar terhadap perintah-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. Ash-Shaffat: 103)

Dan ketika ketaatan itu mencapai puncaknya, Allah mengganti Ismail dengan sembelihan yang besar.

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
(QS. Ash-Shaffat: 107)

Menurut Imam Al-Qurthubi, ayat ini menjadi dasar disyariatkannya kurban sebagai syiar umat Islam dan sebagai pengingat abadi atas pengorbanan serta ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah. (Tafsir Al-Qurthubi, tafsir QS. Ash-Shaffat: 107)

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Jamaah Iduladha rahimakumullah

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar kisah masa lalu yang kita dengar setiap tahun.

Ia adalah fondasi yang melahirkan generasi-generasi pejuang yang rela berkorban demi mempertahankan keimanan.

Para nabi dan rasul setelah Ibrahim menempuh jalan yang sama.

Nabi Nuh berdakwah hampir seribu tahun menghadapi penolakan dan ejekan kaumnya.

Nabi Musa menghadapi kekuasaan Fir’aun yang zalim demi membebaskan manusia dari penindasan.

Nabi Isa menghadapi penolakan dan permusuhan demi menyampaikan kebenaran.

Dan Nabi Muhammad ﷺ menanggung berbagai penderitaan demi sampainya cahaya Islam kepada umat manusia.

Beliau dihina, dicaci, dilempari batu hingga berdarah di Thaif, diboikot di Syi’b Abi Thalib, diperangi dalam berbagai peperangan, bahkan kehilangan orang-orang yang paling dicintainya.

Namun beliau tetap sabar dan istiqamah karena keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti datang.

Baca Juga  Ketika Hukum Diciptakan Tanpa Refleksi Filosofis

Demikian pula para sahabat رضي الله عنهم.

Ada yang meninggalkan kampung halaman dan seluruh hartanya ketika berhijrah.

Ada yang mempertaruhkan nyawa di medan jihad.

Ada yang hidup sederhana meskipun mampu hidup mewah.

Mereka memahami bahwa kemuliaan Islam yang mereka nikmati harus ditebus dengan pengorbanan.

Kaum muslimin yang hidup sesudah mereka juga mewarisi semangat yang sama.

Islam tidak sampai kepada kita hanya melalui tulisan dalam kitab-kitab.

Islam sampai kepada kita melalui air mata para ulama, pengorbanan para dai, perjuangan para orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan iman, dan kesabaran kaum muslimin dalam menjaga agamanya dari generasi ke generasi.

Maka ketika hari ini kita bertakbir merayakan Idul Adha, hendaknya kita juga mengingat saudara-saudara kita di berbagai penjuru dunia yang sedang menghadapi ujian berat karena mempertahankan keimanan mereka.

Di antara mereka adalah saudara-saudara kita di Palestina.

Di tengah keterbatasan, ancaman, kehilangan keluarga, rumah, dan harta benda, mereka tetap menjaga shalat, tetap mengumandangkan adzan, tetap membaca Al-Qur’an, dan tetap meyakini pertolongan Allah.

Penderitaan mereka mengingatkan kita bahwa pengorbanan demi agama bukan hanya kisah para nabi dan sahabat di masa lalu.

Pengorbanan itu masih berlangsung hingga hari ini.

Karena itu Idul Adha bukan sekadar momentum berbagi daging kurban, tetapi juga momentum memperkuat kepedulian, persaudaraan, doa, dan dukungan kepada sesama kaum muslimin di mana pun mereka berada.

 

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Jamaah yang berbahagia

Lalu apa pelajaran terbesar dari kisah ini bagi kita?

Pelajarannya adalah bahwa kurban bukan pertama-tama tentang hewan yang disembelih.