Frustrasi itu tidak selalu meledak menjadi kemarahan. Ia lebih sering hadir sebagai kelelahan yang dipendam, sebagai rasa tertinggal yang tak terucap. Dalam situasi seperti ini, dracin menyediakan jalan pintas emosional, kemenangan fiksi yang bisa dinikmati tanpa syarat.

Cerita-cerita tentang keberhasilan instan perlahan membentuk cara kita memandang hidup. Kesabaran terasa usang. Proses dianggap terlalu lama. Yang dicari adalah hasil, secepat mungkin. Padahal realitas tidak bergerak mengikuti alur episode.

Dracin kerap menempatkan keberhasilan sebagai buah dari kekuatan individu semata. Sementara kenyataan menunjukkan bahwa kesempatan dan dukungan sosial memainkan peran besar. Cerita tentang perjuangan personal lebih sering disorot, sedangkan persoalan struktural perlahan mengabur dari perhatian.

Baca Juga  Gas Melon, Tegakah Kita?

Barangkali itulah sebabnya adegan kemenangan terasa begitu memuaskan. Ia menghadirkan keadilan yang jarang kita jumpai secara utuh. Ia memberi akhir bahagia yang tidak selalu tersedia di dunia nyata. Ia menjadi kompensasi emosional bagi masyarakat yang sedang letih.

Namun betapapun menghiburnya sebuah tontonan, tidak dapat menggantikan kerja panjang membangun kehidupan yang lebih adil.

Popularitas dracin patut dibaca sebagai tanda zaman. Ada frustrasi yang sedang dipikul banyak orang, ada harapan yang mencari tempat berlabuh. Kita mencari kemenangan di layar kecil, karena di dunia nyata, kemenangan terasa semakin mahal.

Kehidupan bukanlah serial dengan alur yang bisa dipercepat. Kemenangan sejati bukan hanya ketika seseorang berhasil naik kelas sosial, melainkan ketika semakin banyak orang merasakan hadirnya keadilan dalam keseharian mereka.

Baca Juga  Intervensi AS ke Venezuela: Pelanggaran HAM dan Ketidakseimbangan Politik Global

Pramoedya Ananta Toer pernah menulis, “Hidup bukan untuk mengeluh dan mengaduh, hidup adalah untuk mengolah hidup, bekerja keras, dan memperjuangkan yang lebih baik.” Barangkali inilah pengingat paling jujur di tengah masyarakat yang hari ini mencari kemenangan di layar kecil.

Sebab selama kemenangan masih lebih mudah ditemukan dalam cerita fiksi ketimbang dalam hidup sehari-hari, frustrasi sosial akan terus mencari tempat berlabuh.

Dan di sanalah pekerjaan rumah kita bersama bermula.