Pada sesi praktik, para guru dibimbing untuk menyusun instrumen self-assessment yang relevan dengan tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar. Tim pengabdian juga memberikan berbagai contoh format dan indikator penilaian yang dapat digunakan untuk membantu siswa melakukan refleksi terhadap proses maupun hasil belajar secara sederhana dan terarah.

Selain itu, peserta memperoleh kesempatan untuk mendiskusikan berbagai tantangan yang mungkin muncul selama penerapan self-assessment di kelas. Berbagai strategi dan solusi praktis dibahas bersama sehingga guru memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai implementasi asesmen tersebut dalam konteks pembelajaran sehari-hari.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Para guru aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, serta mengajukan pertanyaan terkait pengembangan instrumen dan pelaksanaan self-assessment di kelas. Mereka menilai bahwa kegiatan ini memberikan perspektif baru mengenai pentingnya asesmen yang tidak hanya mengukur pencapaian belajar, tetapi juga mendorong siswa untuk menjadi pembelajar yang lebih mandiri dan bertanggung jawab.

Baca Juga  Anggota DPR RI Respon Larangan Bukber bagi Pejabat dan ASN

Melalui kegiatan pendampingan ini, tim pengabdian berharap guru sekolah dasar semakin terampil dalam mengintegrasikan self-assessment ke dalam pembelajaran matematika. Penerapan asesmen yang tepat diharapkan dapat membantu peserta didik mengembangkan kemampuan reflektif, meningkatkan motivasi belajar, serta memperkuat pemahaman konsep matematika secara lebih mendalam.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan profesionalisme guru dan peningkatan kualitas pendidikan dasar. Dengan semakin luasnya penerapan self-assessment, diharapkan tercipta proses pembelajaran matematika yang lebih bermakna, partisipatif, dan berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik secara optimal.