Menurutnya, edukasi pengelolaan sampah menjadi langkah penting karena masih banyak masyarakat yang belum memahami manfaat ekonomi dari sampah yang dihasilkan sehari-hari.

Saat ini, sampah yang terkumpul masih dijual kepada pengepul karena keterbatasan sarana pengolahan. Namun demikian, keberadaan bank sampah telah memberikan dampak positif dalam membangun kebiasaan baru di masyarakat.

“Memang saat ini kami belum memiliki alat pencacah atau fasilitas pengolahan. Namun yang paling penting adalah membangun kesadaran masyarakat terlebih dahulu bahwa sampah harus dipilah dan tidak dibuang sembarangan,” jelasnya.

Dedi menilai PT TIMAH memiliki peran besar dalam mengembangkan bank sampah dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

“PT TIMAH sangat membantu, baik dalam pembangunan sarana awal maupun pembinaan. Dengan adanya pendampingan ini, masyarakat mulai memahami bahwa sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna ternyata bisa memberikan manfaat dan nilai ekonomi,” ujarnya.

Baca Juga  Dukung Keselamatan Nelayan, PT Timah Salurkan Puluhan Life Jacket di Karimun

Ia mengatakan perubahan perilaku masyarakat mulai terlihat. Warga kini lebih terbiasa memilah sampah rumah tangga sebelum disetorkan ke bank sampah, sementara para guru juga aktif mengajak siswa untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan pengelolaan sampah.

“Alhamdulillah sekarang masyarakat sudah mulai memilah sampah dari rumah. Kesadaran ini terus kami bangun agar pengelolaan sampah menjadi budaya yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” katanya. (*)