“Cultivia dengan kapasitas produksi 1,2 ton penyulingan menghasilkan 200 kg essensial oil utamanya citronella, cajuput dan lemongrass siap memenuhi kebutuhan buyer,” ujarnya.

KBRI V Peru Wahid Fairus Azis sebagai Counsellor Fungsi Ekonomi dalam paparanya menjelaskan, bahwa potensi ekspor produk merica dan essensial oil Indonesia ke Peru sangat tinggi.

Ada peluang besar bagi produk UMKM Babel yaitu lada dan essensial Oil untuk di pasarkan ke negara Peru, mengingat Peru dan Indonesia telah memiliki hubungan dan perjanjian bilateral, didukung oleh perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif CEPA (2025) sehingga nilai perdagangan Indonesia ke Peru dari tahun ke tahun terus meningkat.

Selain itu Peru juga mengimpor essensial oil senilai 1,8 juta USD pada tahun 2025 untuk memenuhi kebutuhannya dan Indonesia adalah negara importir terbesar ke tujuh bagi Peru pada tahun 2025.

Baca Juga  Gelar Operasi Pasar Murah di Taman UMKM Babel, Disperindag Libatkan 5 Distributor

“Peru mengimpor merica senilai 10,32 juta USD pada tahun 2025 melalui 20 importir lada yang diperkirakan kebutuhannya akan terus meningkat mengingat promosi dan perkembangan kuliner di salah satu negara Amerika Selatan dengan potensi penduduk sekitar 34,6 juta jiwa itu terus memiliki pangsa pasar yang luas,” terang Wahid.

Peran KBRI Lima Peru, dalam memfasilitasi promosi produk unggulan Indonesia antara lain berupa keikutsertaan aktif dalam 10 tahun terakhir pada expo makan minum terbesar di Peru yakni EXPOALIMENTARIA.

“Dan di tahun 2026 ini akan terselenggara pada 23-25 September, di Lima_Peru dimana KBRI menyiapkan free booth, akomodasi, konsumsi, transport lokal dan penerjemah yang terbatas dan saat ini masih ada peluang ketersediaan booth,” ujarnya.

Baca Juga  Simpan 85 Paket Sabu, Pengedar di Pangkalpinang Disergap Polisi

Sementara itu, perwakilan dari kementrian Luar Negeri (Kemenlu) Ketrin Triwidiastuty menegaskan, ada poin yang menjadi pertimbangan ekspor lada atau rempah ke Peru, yaitu penanganan penyimpanan khusus untuk lada, harus menjadi perhatian yakni masa expirednya, karena perjalanannya yang sangat jauh.

“Untuk produk makro jaya yang dibutuhkan adalah mencari distributor yang memiliki merek dagang setempat,” kata Ketrin.

Hal senada juga disampaikan oleh perwakilan dari kementrian Luar Negeri (Kemenlu) Dadang Rahmat yang turut hadir melalui zoom meeting menyampaikan jika ingin memasarkan produk lada asal Babel, pihak KBRI harus memberikan informasi secara detail, tentang keunggulan produknya.

“Mengingat banyaknya saingan yang sudah memasok kebutuhan merica atau essensial oil di Peru, sebagai bahan pertimbangan calon eksportir yang akan masuk,” tutup Dadang.*

Baca Juga  PWI Bangka Belitung dan Kabupaten Potong 11 Hewan Kurban di Momen Iduladha 1447 H