Rangkuti meminta Kepala Labkesda yang baru dilantik segera menyusun program kerja, khususnya yang berpotensi mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satu sektor potensial yang dibidik adalah layanan uji laboratorium sampel air untuk sektor Usaha Mikro Kecil (UMK), seperti depot air minum isi ulang.

Selama ini, sekitar 150 pelaku usaha depot air minum di Bangka Barat harus melakukan uji laboratorium berkala setiap enam bulan sekali ke Kota Pangkalpinang dengan biaya mencapai jutaan rupiah. Kehadiran Labkesda Babar yang berlokasi di Kota Mentok—tepat di depan Markas Polres Babar—diharapkan mampu memangkas biaya transportasi dan mempermudah birokrasi.

“Tarif kita dipastikan di bawah daerah lain agar tidak membebani UMKM. Pelaku usaha di luar Kecamatan Mentok juga tidak perlu datang langsung. Sampel air cukup dititipkan ke Puskesmas setempat, nanti petugas Puskesmas yang membawa ke sini saat dinas mingguan ke kantor pusat,” jelas Rangkuti.

Baca Juga  97 ASN di Pemkab Babar Emban Amanah Baru

Selain depot air minum, Dinkes Babar juga membidik potensi uji laboratorium untuk industri rumahan lain seperti pabrik tempe. Rangkuti menambahkan, regulasi mengenai tarif layanan saat ini sedang disusun dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda). Ke depan, Labkesda Babar ditargetkan bertransformasi menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).