Saat Usia Mengajarkan Arti Kehidupan yang Sesungguhnya
* Ketenangan Hati: Jauh lebih berharga daripada kemewahan hidup.
* Kesehatan: Mahkota yang lebih bernilai daripada tumpukan kekayaan.
* Keluarga yang Harmonis: Terasa lebih indah daripada semunya popularitas.
* Waktu yang Bermanfaat: Jauh lebih mulia daripada kesibukan yang sia-sia.
Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh bapak psikologi humanistik, Carl Rogers:
“Kehidupan yang baik adalah sebuah proses pribadi yang terus mengalir, bukan sebuah status akhir yang statis.”
5. Hakikat Bersyukur dan Janji Ilahi
Usia tidak hadir untuk membuat kita lelah, melainkan untuk menghentikan ambisi buta kita. Ia mengajarkan kita untuk tidak lagi menghitung apa yang belum dimiliki, tetapi mensyukuri apa yang masih Allah SWT titipkan.
Sebab, hakikat kehidupan yang sesungguhnya bukanlah tentang siapa yang memiliki paling banyak, melainkan tentang siapa yang paling pandai bersyukur atas nikmat yang ada. Prinsip ini beriringan dengan tuntunan ilahi di dalam Al-Qur’an:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
6. Doa dan Renungan Akhir
Mari kita berharap dan berdoa, semoga dengan bertambahnya usia, bertambah pula rasa syukur dan kesabaran di dalam dada, serta semakin dekat pula langkah kita kepada Allah SWT. Kebahagiaan itu sederhana; ia tidak selalu berbentuk kekayaan, tetapi orang yang pandai bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk berbahagia. Karena pada akhirnya, ketenangan jiwa adalah kekayaan yang sesungguhnya.
Sebagai jangkar perenungan kita tentang makna waktu dan kedewasaan, mari kita resapi kutipan indah dari psikiater dan penyintas Holocaust, Viktor Frankl:
“Orang muda mungkin melihat masa depan penuh dengan kemungkinan, namun orang tua memiliki sesuatu yang lebih dari itu: mereka memiliki realitas di masa lalu—makna yang telah mereka penuhi, kasih sayang yang telah mereka berikan, dan penderitaan yang telah mereka lalui dengan berani. Dan tidak ada seorang pun yang bisa merenggut kekayaan itu dari jiwa mereka.”
Wallahu ‘alam bissawab
