Oleh: M. Arrayyan Rasendriya Putraniko — Mahasiswa Program Studi Psikologi Islam IAIN SAS BABEL

Organisasi remaja pada umumnya adalah wadah pembinaan generasi muda. Fungsinya bukan hanya menjadi sarana pengembangan keterampilan (skill), namun juga sebagai wadah pembentukan karakter, moralitas, dan penjagaan kesehatan mental yang diselaraskan dengan nilai-nilai spiritual. Dalam proses tersebut, tak jarang organisasi mengangkat isu yang terbilang krusial bagi kehidupan remaja. “Kampanye Antirokok” masuk dalam salah satu isu yang kerap mereka suarakan, bahkan sudah menjadi agenda “WAJIB” pada tiap periode kepengurusan organisasi, sebagai bentuk pembinaan generasi muda.

Dalam perspektif medis dan psikologis, upaya mengedukasi remaja tentang dampak negatif rokok sangat patut diapresiasi. Rokok terbukti menurunkan kualitas hidup dan merusak fisik yang merupakan amanah dari Tuhan. Namun, jika dilihat dari kacamata psikologi, muncul hal ironis yang sangat mengkhawatirkan mengenai konsistensi organisasi dalam memilih prioritas isu.

Di era maraknya Kampanye Antirokok yang sangat aktif, berbagai masalah moralitas dan krisis identitas gender yang jauh lebih mendasar justru sering terabaikan, bahkan mengalami proses “dinormalisasikan” secara terselubung.

Fenomena ini merupakan bukti bahwa proses selektivitas isu remaja masih sangat pincang. Organisasi remaja sekarang terlihat sangat vokal dan “garang” ketika menjalankan Kampanye Antirokok sebagai musuh utama moralitas generasi muda. Tetapi, di saat yang bersamaan, mereka mendadak pasif—bahkan cenderung permisif—terhadap fenomena pergeseran perilaku seksual dan krisis identitas gender di kalangan remaja. Contohnya adalah maraknya fenomena boti (perilaku homoseksual submisif) atau gaya hidup tomboi ekstrem yang mengekspresikan disorientasi gender.

Baca Juga  Menjadi ASN di Zaman Now

Penyimpangan identitas seperti laki-laki yang bertindak menyerupai perempuan, atau pun sebaliknya, lambat laun membentuk karakter yang mengarah pada perilaku homoseksual dan lesbian. Ini merupakan bentuk krisis identitas gender (gender identity disorder) dan pencemaran fitrah yang berdampak fatal pada struktur psikologis serta spiritual remaja.

Namun mirisnya, organisasi remaja sering kali menganggap isu penyimpangan seksual ini terlalu sensitif, atau takut dianggap tidak inklusif. Alhasil, mereka memilih jalan aman dan terus-menerus mendaur ulang Kampanye Antirokok yang menjadi program kerja (proker) kebanggaan mereka selama bertahun-tahun.

Muncul kesan bahwa organisasi ini menerapkan standar ganda dalam proses pembinaannya. Perilaku merokok sering dikritik keras, dianggap merusak masa depan, dan pelakunya langsung “disidang”. Sementara itu, perilaku menyimpang justru dibiarkan, dianggap angin lalu, bahkan dinormalisasikan atas nama kebebasan berekspresi atau solidaritas pertemanan.

Secara psikologis, model pembinaan yang parsial seperti ini sangat berbahaya. Ketika organisasi sibuk merazia rokok tetapi mengesampingkan bahkan menormalisasi perilaku penyimpangan seksual, hal ini akan memicu disonansi kognitif pada remaja.

Mereka didoktrin bahwa menjaga kesehatan fisik dari asap rokok jauh lebih penting daripada menjaga kesucian jiwa, mental, dan orientasi seksual mereka. Padahal, dampak dari penyimpangan fitrah ini menyerang langsung inti kesehatan mental (mental health) dan spiritualitas remaja, yang dalam jangka panjang bisa memicu depresi, kecemasan akut, hingga kehancuran moral generasi.

Baca Juga  Bangka Menyapa Dunia

Tindakan selektivitas semacam ini jelas meruntuhkan kredibilitas organisasi itu sendiri. Sebuah wadah pembinaan karakter remaja idealnya memiliki objektivitas dan integritas yang utuh. Ketika kritik hanya diarahkan pada bahaya fisik (rokok), sementara degradasi moral dan seksual dianggap lumrah, masyarakat awam akan mempertanyakan: urgensi apa yang sebenarnya sedang mereka perjuangkan?

Oleh sebab itu, organisasi remaja sebaiknya melakukan refleksi, evaluasi, dan reprioritasi program kerja mereka. Kampanye Antirokok sangat patut diapresiasi dan silakan tetap dijalankan, tetapi jangan dijadikan tameng pengalihan isu dari realitas bahwa remaja hari ini sedang digempur oleh krisis moralitas seksual yang luar biasa.

Organisasi harus berani, tegas, serta tidak acuh untuk membangun ruang edukasi serta konseling psikologis yang berlandaskan moral guna memitigasi penyimpangan orientasi seksual ini. Pembinaan yang efektif harus menyentuh seluruh aspek manusia secara utuh dan holistik.

Keberhasilan suatu organisasi remaja tidak dinilai dari seberapa sering mereka mengampanyekan seremoni antirokok, melainkan dari seberapa berani dan konsisten mereka menjaga anggotanya (serta remaja di daerahnya) dari segala bentuk perusakan fisik maupun mental. Konsistensi dalam menjaga fitrah inilah yang bisa membuat organisasi tetap dipercaya sebagai benteng pertahanan moral generasi muda yang seutuhnya.

Persoalan ini sebenarnya bukan sekadar tentang pilihan program kerja, melainkan tentang arah pembinaan yang ingin dibangun untuk generasi muda. Remaja merupakan kelompok usia yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri, sehingga sangat membutuhkan pendampingan yang seimbang antara aspek fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Baca Juga  Wajah Asli Komunitas-komunitas Jelang Tahun Politik

Ketika suatu organisasi hanya menyoroti satu persoalan tertentu secara berulang-ulang sementara persoalan lain yang lebih mendasar tidak memperoleh perhatian yang setara, maka proses pembinaan berpotensi kehilangan keseimbangannya. Akibatnya, remaja dapat menerima pesan yang kurang utuh mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, organisasi remaja sejatinya memiliki posisi strategis sebagai agen edukasi di lingkungan masyarakat. Keberadaan organisasi tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari keberanian dalam merespons berbagai persoalan yang sedang berkembang di kalangan anggotanya.

Oleh karena itu, diperlukan keberanian intelektual dan moral untuk mengangkat isu-isu yang dianggap sensitif, selama dilakukan dengan cara yang santun, edukatif, dan berlandaskan nilai-nilai yang dianut oleh organisasi tersebut. Menghindari suatu persoalan karena takut menuai kritik justru dapat menimbulkan kesan bahwa organisasi sedang menutup mata terhadap realitas di lapangan.

Di sisi lain, masyarakat menaruh harapan besar kepada organisasi kepemudaan sebagai salah satu benteng pembinaan karakter generasi muda. Harapan tersebut muncul karena organisasi sering kali menjadi tempat pertama bagi remaja untuk belajar mengenai kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan nilai-nilai kehidupan.

Apabila proses pembinaan berlangsung secara selektif dan tidak menyentuh persoalan yang dianggap penting oleh masyarakat, maka kepercayaan publik terhadap organisasi tersebut dapat mengalami penurunan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengurangi efektivitas organisasi dalam menjalankan fungsi pembinaan yang selama ini menjadi tujuan utamanya.