Ketika Hijau Menjadi Napas Alam Perkotaan: RTH sebagai Investasi Lingkungan di Tengah Perkembangan Kota
Oleh: Nila Ainun Fitria — Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Koordinator: Dr. Sulvi Purwayantie, S.TP., MP.
Sekarang ini, Ruang Terbuka Hijau atau RTH bukan cuma pemanis mata di pinggir jalan, tapi sudah jadi “paru-paru” yang bikin kota kita tetap bisa bernapas. Bayangkan saja kalau kota cuma isinya beton semua, suhu udara pasti bakal panas dan bikin kita gampang gerah dan stress. RTH punya peran penting buat nurunin suhu kota yang biasanya kaya panggang oven karena efek pulau panas perkotaan.
Selain bikin adem, taman atau area hijau itu penting sekali untuk kesehatan mental kita supaya tidak gampang depresi karena tumpukan kerjaan atau macetnya jalanan. Sayangnya, banyak lahan yang harusnya jadi teman makah berubah jadi ruko atau gedung tinggi, padahal aturan sudah bilang jika kota harus punya area hijau minimal 30 persen.
RTH juga bisa di pandang sebagai investasi lingkungan yang manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang. Kehadiran taman kota, jalur hijau, dan area yang ditumbuhi pepohonan bukan hanya mempercantik lingkungan, tapi juga memberikan udara yang lebih segar dan suasana yang lebih nyaman. Jika banyak lahan berubah jadi bangunan tinggi dan toko, RTH jadi tempat bagi alam untuk hadir di tengah aktivitas perkotaan.
Bagi saya, kota yang nyaman bukan kota yang dipenuhi gedung-gedung yang tinggi melaikan kota yang masih memberi ruang bagi alam untuk tumbuh. Kehadiran RTH bisa buat lingkungan terasa lebih sejuk, lebih sehat, dan lebih nyaman untuk di tempati. Jadi, di tengah pesatnya perkembangan kota, menjaga dan merawat RTH menjadi langkah sederhana yang akan memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat dan lingkungan.
Di tengah kemajuan pesat Kota Pangkalpinang yang berfungsi sebagai pusat administrasi, bisnis, dan layanan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, muncul sebuah pertanyaan krusial yang perlu dipikirkan. Sudahkah proses pembangunan yang sedang terjadi saat ini memberikan kesempatan yang cukup bagi lingkungan untuk bertahan?
Pertanyaan ini semakin penting saat berbagai wilayah urban terus tumbuh dan permintaan akan lahan untuk tempat tinggal, infrastruktur, serta kegiatan ekonomi semakin tinggi. Di sisi lain, RTH yang seharusnya berfungsi sebagai penyeimbang ekologis kota justru mengalami tekanan yang cukup besar.
Sebenarnya, keberadaan ruang terbuka hijau bukan hanya isu estetika, melainkan juga elemen krusial dari sistem lingkungan yang mendukung kehidupan masyarakat. Ruang terbuka yang dipenuhi tanaman bisa dilihat sebagai “napas” untuk suatu kota. Pohon-pohon dan tanaman yang ada di dalamnya memiliki peran untuk menyerap karbon dioksida, memproduksi oksigen, menurunkan temperatur udara, mengurangi aliran air hujan, dan menyediakan tempat tinggal bagi beraneka ragam makhluk hidup.
