Maklumlah sogokan menjadi momok yang menakutkan bagi warga kampung ketika mendengar ada penerimaan pegawai.

Bukan sesuatu yang aneh, bila penerimaan pegawai di kantor selalu identik dengan orang dalem dan uang pelicin.

“Ini baru pemimpin,” alok seorang warga

“Kita lihat bae hasil e,” balas seorang warga yang berkopiah dengan nada ketus.

“Betul. Kita liet ujungnya. Apakah UUD. Ujung-ujungnya duit,” sambung warga yang lainnya.

Para pegawai yang lulus seleksi menjadi resah. Beberapa bawahan pak pemimpin memintak orang tuh untuk menyetorkan uang.

“Ini perintah pak pemimpin kepada kami, bawahannya,” cerita seorang bawahannya.

“Tapi cakap pak pemimpin kan lah jelas. Sangat tegas. Dak de uang pelicin. Dak de uang sogokan,” seorang peserta yang lulus berargumentasi.

Baca Juga  Inner Child

“Ini suratnya.”

Seorang bawahan pak pemimpin memperlihatkan sebuah surat yang ditulis pak pemimpin kepada bawahannya untuk meminta sejumlah uang kepada peserta yang lulus agar menyerahkan sejumlah uang.

Bukan hanya deretan peristiwa di atas yang membuat publik yang dipimpin pak pemimpin sudah dak pecaye ken kelaken pak pemimpin mereka.

Kini dak heran bila dalam kegiatan yang dihadiri pak pemimpin, warga yang datang makin sedikit. Mereka para warga yang datang hanye nek menikmati berbagai sajian dan hiburan bae sebagai pelepas leteh abis begawe.

Cakap pak pemimpin yang duluk e mereka pilih dengan hati nurani dak pernah agik mereka dengarkan.

Narasi pak pemimpin yang duluk e mereka alok-alok, bahkan mereka  ilen dengan segenap jiwa, kini dak pernah agik mereka dengarkan. Masuk bilung kirik. Keluar bilung kanan.

Baca Juga  Poeloeng

Mereka menganggap cakap pak pemimpin mereka sebagai angin lalu yang menebarkan aroma bau busuk. Menyebar lalet kehidupan di kampung orang tuh.

Kini, setiap pak pemimpin becakap, selalu keluar kate-kate pembulak dari mulut warga kampung. Ngentem raganya yang kurus kering.

Pembulak

Pembulak

Pembulak…

Teriak warga.

Penulis adalah penggiat literasi yang berkehidupan di Toboali, Bangka Selatan.