Apresiasi juga disampaikan oleh Rini Setyowati, S.E., Ketua Yayasan Puri Cendekia. Rini menyebut para guru mengikuti pelatihan dengan serius meskipun materi yang diberikan merupakan hal baru. Sebagian peserta sempat merasa khawatir karena belum terbiasa dengan logika pemrograman, tetapi mereka tetap mengikuti proses sampai selesai.

Menurut Rini, kesungguhan para guru menunjukkan kemauan untuk terus belajar. Ia menilai kemampuan membuat media pembelajaran digital dapat membantu guru menyiapkan variasi kegiatan di kelas, terutama untuk materi yang membutuhkan gambar, suara, dan cerita bergerak. Ia juga berharap kerja sama dengan Telkom University Kampus Surabaya dapat berlanjut dalam kegiatan berikutnya.

Dari sisi mahasiswa, kegiatan ini memberi pengalaman langsung dalam mendampingi peserta dengan latar belakang nonteknis. Perwakilan mahasiswa menyampaikan bahwa para guru menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Mereka tidak hanya mengikuti arahan, tetapi juga meminta masukan saat karya yang dibuat belum sesuai dengan alur cerita yang direncanakan.

Dalam praktiknya, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok menyusun proyek Scratch berdasarkan tema pembelajaran yang telah ditentukan. Beberapa peserta bahkan mampu mengembangkan lebih dari satu karya setelah memahami langkah dasar penggunaan blok perintah.

Hasil kegiatan ini berupa video modul pembelajaran TK yang diserahkan kepada pihak mitra. Luaran tersebut dapat digunakan sebagai bahan belajar, contoh pengembangan media, dan dasar untuk penyusunan modul serupa sesuai tema pembelajaran di sekolah.

Pelatihan ini juga menjawab kebutuhan guru terhadap media digital yang tetap ramah anak. Dalam proposal kegiatan, tim mencatat bahwa pemanfaatan teknologi di lingkungan TK perlu memperhatikan batas screen time dan menghindari penggunaan perangkat yang membuat anak pasif. Karena itu, Scratch diarahkan sebagai alat bantu guru, bukan sebagai pengganti interaksi di kelas.

Melalui kegiatan ini, Telkom University Kampus Surabaya mendorong penggunaan teknologi yang sederhana dan sesuai kebutuhan mitra. Guru tetap menjadi pihak utama yang merancang pesan pembelajaran, sementara Scratch membantu menyajikan cerita dalam bentuk animasi yang lebih menarik bagi anak.

Pelatihan dua hari itu menutup kegiatan dengan suasana yang lebih percaya diri. Para guru yang awalnya belum mengenal Scratch mulai memahami cara menyusun cerita, gerakan, dan suara dalam satu media pembelajaran. Bagi Puri Cendekia, pengalaman tersebut menjadi langkah awal untuk mengembangkan modul digital yang lebih variatif tanpa meninggalkan pola belajar yang dekat dengan dunia anak.