Perwakilan WowBabel Institut, Barliyanto mengatakan latar belakang digelarnya workshop ini karena AJI Pangkalpinang melihat kondisi lingkungan di Bangka Belitung sangat miris, dimana Bangka Belitung sebagai daerah tambang, namun jurnalis yang memberitakan kerusakan lingkungan sangat minim sekali.

Kerusakan lingkungan di Bangka Belitung sangat luar biasa dan kepada para jurnalis lingkungan, dengan kerusakan yang masif ini kita harap nantinya bisa memberi suara seperti di Manokwari hanya beberapa tahun terakhir ini saja tambang nikelnya masif, tapi heboh dan viralnya luar biasa sampai luar negeri.

“Kita di Bangka Belitung ratusan tahun dengan tambah timah, tapi tidak ada suaranya, sangat memprihatinkan jadi kita mencoba memberi advokasi ke teman-teman jurnalis,” ujarnya.

Menurut Barli, AJI Pangkalpinang juga sengaja melibatkan jurnalis perempuan meski jumlahnya belum begitu banyak karena di AJI itu hanya ada jurnalis, tidak ada wartawan, karena jika wartawan itu ada wartawati.

Di AJI itu jurnalis, laki-laki perempuan itu sama, tidak gender sehingga kita sama-sama konsen dan jurnalis perempuan itu sangat luar biasa. AJI sangat konsen dengan perempuan-perempuan yang luar biasa dan yang hadir di pelatihan ini.

“Semoga setelah pelatihan ini Adik-adik bisa membuat laporan bagaimana kerusakan lingkungan dan rambu-rambunya ketika kita menulis tentang lingkungan,” tutup Barli.**