Jangan Biarkan Oknum Merusak Nama Pesantren
Persoalannya, logika pemberitaan di media sosial jarang bekerja secara proporsional. Satu kasus kekerasan atau pelanggaran di satu pesantren dengan cepat digeneralisasi menjadi “begini memang pesantren”, dan judul-judul yang dibuat mengarahkan opini seolah seluruh dunia pesantren adalah tempat yang berbahaya. Inilah yang dikhawatirkan Hulaimi sebagai bentuk penggiringan opini yang tidak proporsional.
Bahaya Generalisasi
Jika generalisasi ini dibiarkan, yang terjadi bukan sekadar pemberitaan yang tidak adil, melainkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap pondok pesantren secara keseluruhan. Bagi masyarakat dengan literasi media yang belum memadai, judul dan potongan berita yang provokatif jauh lebih mudah membentuk persepsi dibanding data dan konteks yang utuh. Stigma bahwa pesantren identik dengan kekerasan, perundungan, atau tempat yang menakutkan bisa terbentuk hanya dari eksposur berulang terhadap kasus-kasus segelintir oknum, tanpa mempertimbangkan bahwa ratusan pesantren lain berjalan sehat dan aman.
“Justru semakin banyak komentar negatif yang beredar, semakin saya bersyukur pernah menempuh pendidikan di pondok pesantren,” kata Hulaimi. Sebab, menurut dia, dari pengalaman langsung ia tahu bahwa gambaran yang digeneralisasi itu tidak mencerminkan keseluruhan realitas pesantren yang ia jalani dan saksikan sendiri.
Pesantren dan Krisis Karakter
Di tengah era globalisasi yang justru diwarnai krisis karakter dan akhlak ”mulai dari pergaulan bebas hingga penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja” sistem pendidikan pesantren, sebagaimana pola pendidikan disiplin berbasis asrama lainnya, dapat menjadi salah satu benteng terakhir dalam membentuk karakter anak sekaligus tameng pencegahan dini terhadap persoalan-persoalan tersebut.

