Menjaga Warisan Budaya: Kala Rumah Adat dan Bahasa Daerah Jadi Diskusi Utama LAM Bangka Selatan
“Berbagai upaya telah dilakukan. Seperti seminar tentang Batin Tikal hingga penerbitan buku tentang kiprah Batin Tikal,” papar Kulul.
Menanggapi usulan dari Pengurus Lembaga Adat Melayu Junjung Behaoh, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Bangka Selatan Anshori meminta Kepala Bidang Kebudayaan untuk menginventarisir usulan dari Pengurus Lembaga Adat Melayu Kabupaten Bangka Selatan.
“Kita berupaya untuk menyelesaikan usulan dari pengurus Lembaga Adat Melayu. Terutama soal sekretariat,” ungkapnya.
Bagaimana pun lanjut Anshori peran Lembaga Adat Melayu Junjung Behaoh dalam pembangunan daerah, khususnya dalam bidang kebudayaan sudah terlihat nyata.
“Mulai dari penetapan Hari Jadi Kota Toboali hingga baju Adat yang akan segera memiliki payung hukumnya, berupa Perda yang akan disahkan dalam waktu dekat ini,” papar Anshori.
Anshori berharap kolaborasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan Lembaga Adat Melayu Junjung Behaoh terus disinergikan.
“Tak terkecuali tentang kegiatan pada hari jadi Kota Toboali 25 oktober mendatang. Keterbatasan khususnya anggaran tak menyurutkan langkah kita bersinergi dan bekerja sama membangun daerah ini. Khususnya bidang kebudayaan,” jelas Anshori.
Di tengah deru pembangunan dan derasnya arus budaya luar, ada satu rumah yang tetap kokoh menjaga jati diri. Rumah itu bernama Lembaga Adat Melayu (LAM)
LAM bukan hanya lembaga. LAM adalah penjaga. Penjaga bahasa, penjaga adab, penjaga cara kita menyapa, duduk, dan menghormati.
Pembangunan boleh maju, teknologi boleh canggih, tapi selama LAM masih ada, Melayu tidak akan kehilangan jiwanya.
Memajukan daerah tanpa adat, ibarat membangun rumah tanpa fondasi. Megah di luar, tapi rapuh di dalam.

