Peningkatan signifikan pada performa keuangan tersebut dipicu oleh melambungnya volume penjualan serta tren positif harga jual rata-rata logam timah di pasar internasional. Sepanjang Semester I 2026, harga jual rata-rata logam timah perseroan bertengger di angka 49.794 dolar AS per metrik ton, alias naik 52 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu sebesar 32.816 dolar AS per metrik ton.

Dari sisi operasional, produksi bijih timah melonjak 75 persen menjadi 12.232 ton Sn. Lonjakan ini didorong oleh optimalisasi produktivitas dan penambahan armada operasional, seperti kapal isap produksi (KIP), ponton isap produksi (PIP), hingga tambang darat kemitraan. Tren ini berbanding lurus dengan produksi logam timah yang ikut terkerek 58 persen menjadi 10.865 metrik ton Sn.

Seiring dengan peningkatan produksi, volume penjualan logam timah melesat 85 persen hingga mencapai 10.984 metrik ton berkat strategi pengelolaan persediaan yang optimal. Penjualan perseroan masih didominasi oleh pasar ekspor sebesar 97 persen dengan tujuan utama China (36%), India (12%), Korea Selatan (11%), Singapura (6%), Belanda (5%), dan Italia (5%) sedangkan pasar domestik menyerap sisa 3 persen.

Menutup keterangannya, Restu menambahkan bahwasannya kunci utama kesuksesan perusahaan semester ini terletak pada eksekusi lapangan dan kendali biaya yang ketat.

“Peningkatan produktivitas di seluruh lini, disiplin yang tinggi dalam pengelolaan biaya, serta optimalisasi operasi menjadi faktor mendasar yang mendorong pencapaian cemerlang perusahaan saat ini,” pungkasnya.