Peningkatan kualitas interpretasi dan fasilitas geosite ini turut memikat perhatian Direktur BUPP KEK Tanjung Kelayang, Daniel Alexander Napitupulu. Ia menyoroti lonjakan kualitas di beberapa titik, seperti Geosite Garumedang yang kini piawai memaparkan asal-usul batu satam (bilitonite), kelestarian hutan primer di Batu Begalang, serta penataan Vihara Dewi Kwan Im. Daniel pun menyatakan kesiapannya untuk gencar mempromosikan geosite Beltim ke ceruk pasar wisatawan internasional.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Beltim, Muhamad Yulhaidir, menekankan bahwa tim UNESCO tidak hanya memotret keindahan fisik, melainkan menguliti roda tata kelola geopark secara menyeluruh.

“Evaluator mengkaji data kunjungan, program pemberdayaan masyarakat, hingga geliat ekonomi kreatif yang tumbuh di sekitar geosite selama dua tahun terakhir,” terang Yulhaidir.

Proses penilaian revalidasi Belitong UNESCO Global Geopark masih terus bergulir hingga Jumat (7/8/2026). Seluruh pemangku kepentingan berharap catatan positif dari lapangan ini berbuah manis pada penetapan hasil akhir revalidasi UNESCO.

Sumber: beltim.go.id