Pelatihan ini menghadirkan pemateri Windy Garini, S.Pd., serta dihadiri oleh Kepala Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung, Efriyendy Gusti, S.S., M.Hum., dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pangkalpinang, Endang Supriyadi, S.T., M.T.

“Kehadiran Bunda Literasi, Kepala Kantor Bahasa, dan Kepala Dinas Perpustakaan menjadi dorongan energi yang sangat besar bagi kami. Pelatihan ini dibawakan dengan materi yang sangat praktis dan langsung bisa diterapkan,” kata Arifin.

Arifin meyakini para peserta akan menjadi agen perubahan yang menularkan kebiasaan membaca buku di lingkungan masing-masing. Menurutnya, gerakan literasi dari tingkat tapak (grassroots) memiliki kekuatan besar untuk saling menggerakkan.

Melalui metode membaca nyaring (read aloud), orang tua dan pendidik dibimbing untuk membacakan buku dengan suara lantang dan ekspresif. Langkah ini terbukti efektif membantu anak memahami struktur bahasa, memperkaya kosakata, melatih pendengaran, sekaligus mempererat hubungan emosional sejak usia dini.

Membaca Nyaring: Kunci Fondasi Literasi

Metode membaca nyaring bukan hal baru, namun penerapannya masih perlu digalakkan. Dengan membacakan buku dengan suara lantang dan penuh ekspresi, orang tua dan pendidik membantu anak memahami struktur bahasa, memperkaya kosakata, melatih pendengaran, sekaligus membangun kedekatan emosional.

Kegiatan seperti yang digelar TBM Arisya menjadi bukti bahwa kemajuan literasi tidak harus menunggu program besar pemerintah — dimulai dari kelompok masyarakat, dari keluarga, dari suara yang membacakan cerita di waktu senggang.

Semangat yang terpancar di Gedung Betason menjadi bukti bahwa Pangkalpinang memiliki penggerak literasi yang tak pernah lelah berbagi. Selamat berliterasi, semoga manfaatnya terus mengalir luas, mewujudkan generasi yang tak hanya pandai membaca, tetapi juga bijak memahami dunia. (##)