Detik yang Menghunus Usia
Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi
Pernahkah kita menyadari bahwa setiap detak jarum jam bukanlah sekadar penunjuk waktu, melainkan bunyi langkah kaki kita yang semakin dekat menuju gerbang kematian?
Berkendara di Atas Punggung Waktu
Sadar atau tidak, kita semua adalah musafir yang sedang berkendara di atas punggung usia. Hari berganti, bulan tergulung, dan tahun berlalu tanpa pernah bisa kita tahan. Di dalam perjalanan panjang ini, ada sebuah ironi yang nyata: setiap kali matahari terbenam, dunia yang kita kejar justru semakin kita jauhi, dan liang kubur yang sunyi justru semakin kita dekati. Jatah usia kita resmi terpangkas, dan hari esok belum tentu menjadi bagian dari takdir hidup kita.
Ilusi Penundaan dan Dua Kenikmatan
Namun, mengapa kita masih sering terbuai? Kita kerap tertipu oleh riuhnya dunia dan berbisik lirih, “Nanti saja, kesempatan masih ada.” Kita lupa pada peringatan Rasulullah SAW bahwa manusia sering kali tertipu oleh dua nikmat besar: kesehatan dan waktu luang. Kita menggadaikan waktu yang berharga ini dengan penundaan yang sia-sia. Padahal, waktu adalah nafas sekali ia terembus, ia tidak akan pernah kembali. Waktu juga adalah pedang yang siap menebas leher kita jika kita gagal mengendalikannya.

