Nganggung, Maulid Nabi, Katalis Persatuan Rakyat dari Bangka
Oleh: D’ Utama — Pemerhati Lingkungan dan Kemasyarakatan Bangka Belitung
Hari Selasa (25/09/2026), seiring 12 Rabiul Awal 1448 H, ditetapkan pemerintah sebagai hari besar keagamaan umat Islam, yaitu Maulid Nabi Muhammad SAW. Sangat fantastis dan cerdas para ulama terdahulu (rahimakumullah) menggunakan analogi sebagai media edukasi keagamaan yang sangat efektif bagi masyarakat.
Sebagai taklik (pengikut) mazhab Syafi’i, walaupun belum ada di masa Imam Syafi’i, mayoritas ulama pengikut mazhab Syafi’i kemudian memandang perayaan maulid sebagai bid’ah hasanah (perbuatan baik yang tidak bertentangan dengan syariat).
Peringatan ini dianggap boleh dan terpuji selama diisi dengan pembacaan Al-Qur’an, selawat, serta sejarah hidup Nabi Muhammad SAW. Salah satunya pendapat ulama besar mazhab Syafi’i, seperti Imam Jalaluddin As-Suyuthi, yang menyatakan bahwa kegiatan berkumpul, membaca kisah teladan Nabi (sirah nabawiyah), berselawat, dan memberi makan dalam acara maulid adalah perbuatan terpuji jika bersih dari kemungkaran.
Rasa iman dan cinta kepada Rasulullah SAW salah satunya dapat berupa rasa syukur atas kelahiran Nabi yang merupakan rahmat terbesar bagi semesta alam (istilah sekarang: multiverse), sehingga umat Islam dianjurkan menyambutnya dengan rasa gembira dan bersyukur kepada Allah SWT.
Mencoba menulis mauludan dari sisi budaya masyarakat Bangka. Seperti mengulang kisah lama sejak kanak-kanak dulu, setiap menjelang 12 Rabiul Awal (Maulid Nabi), rasa gembira dan suka ria muncul menyelimuti jiwa, terpatri di kepala dan dada tentang sosok manusia agung yang pernah lahir di muka bumi.
Sungguh indah dan autentik. Dahulu saat membantu sekadar menyiapkan makanan, menatap binar menunggu makanan disusun di dulang, dan berlari kecil mengikuti pembawa dulang menuju masjid atau langgar dengan kopiah miring dan sarung diselempangkan.
Sampai masjid atau langgar, kanak-kanak berebutan posisi duduk dengan teman, mengintip makanan di balik tudung saji. Begitu semangat menahan kantuk, sesekali terlelap saat sirah Nabi Muhammad SAW dibacakan. Kemudian serentak tersadar khusyuk ketika doa berkumandang sebab pertanda perut akan kenyang bertukar makanan dengan teman, dan puncaknya tidak lupa membawa sangu pulang ke rumah.
Benar adanya, dengan mauludan kami sebagai kanak-kanak saat itu dapat dengan mudah mengetahui, mengenal, dan memahami sosok Rasulullah Muhammad SAW. Bahkan setelah setua ini, masih membangkitkan rasa syukur dan kegembiraan saat menjelang hari Maulid Nabi Muhammad SAW.

