Menjaga Tradisi, Merawat Silaturahmi: Pesona Nganggung 1.000 Pintu 1.000 Dulang di Tuatunu
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat membawa dulang berisi beragam hidangan untuk disantap bersama. Salah satu tradisi yang turut diangkat adalah telur seroja yang disebut Saparudin memiliki kedekatan dengan budaya masyarakat Tuatunu.
“Setahu saya bagi masyarakat Tuatunu ini memang luar biasa. Kalau ada kegiatan, pesta, kenduri, atau acara-acara, selalu tidak ketinggalan telur bulat, telur rebus. Itu menjadi juga satu budaya yang ada di Tuatunu ini,” katanya.
Selain Festival Nganggung, Saparudin menyampaikan bahwa pada kesempatan tersebut juga dilakukan peluncuran Kampung Zakat dan Kampung Sedekah di Tuatunu yang, didukung Baznas Pangkalpinang dan Baznas Babel.
Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Melayu Tuatunu, Zulkifli, mengatakan pelaksanaan Festival Nganggung menjadi kebanggaan bagi masyarakat Tuatunu, karena mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai penjuru Kota Pangkalpinang.
“Dia merupakan simbol dari persatuan dan kesatuan di antara kita. Dia adalah merupakan simbol kegotongroyongan di antara kita. Karena masyarakat semuanya, apakah itu miskin, kaya, muda, tua, tidak dibatasi oleh gender, dan kita sama-sama datang di sini dalam rangka menganggung,” ujarnya.
Lembaga Adat Melayu Tuatunu juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Pangkalpinang, khususnya Dinas Pariwisata, yang telah memfasilitasi kegiatan Festival Nganggung 2026.
“Kami launching Tuatunu adalah Kampung Zakat. Ini merupakan pilot project, suatu kampung yang akan gemar berzakat di Kota Pangkalpinang ini yang dimulai dari Tuatunu,” katanya.

