InJourney dan TCI Tanam 900 Pohon di Geosite Tebat Rasau, Perkuat Ekosistem dan Jalur Rempah Beltim
Ketua Yayasan Tarsius Center Indonesia (TCI), Budi Setiawan mengatakan kolaborasi tersebut memiliki arti penting bagi keberlanjutan kawasan Geosite Tebat Rasau. Menurutnya, Tebat Rasau tidak hanya memiliki nilai geologi, tetapi juga menyimpan kekayaan ekologi dan kearifan lokal yang kuat. Penanaman tanaman rempah menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas kawasan tersebut sebagai bagian dari jalur rempah dunia.
“Ada nilai-nilai geologi di situ, ada nilai-nilai ekologi yang sangat kuat. Penanaman rempah ini menandai bahwa Tebat Rasau memang betul-betul jalur rempah dunia,” ungkap Budi.
Selain menjaga lingkungan, Budi melihat kegiatan tersebut dapat mendukung pengembangan pariwisata Kabupaten Beltim. Tebat Rasau yang dikenal dengan keberadaan sungai purba memiliki karakter wisata yang kuat, terutama bagi wisatawan yang memiliki perhatian terhadap lingkungan dan kearifan lokal.
“Penanaman ini untuk menjaga kelestarian itu,” katanya.
Budi berharap kolaborasi tersebut dapat membuat cerita mengenai alam dan kearifan lokal Tebat Rasau semakin dikenal luas. Terlebih, keberadaan bandara sebagai pintu masuk wisatawan ke Pulau Belitung dapat menjadi bagian penting dalam memperkenalkan potensi tersebut.
“Bagaimana cerita-cerita kearifan lokal ini juga bisa tersampaikan ke dunia, sehingga pariwisata Belitung Timur semakin bangkit dengan karakter yang sangat kuat, yaitu minat khusus, peduli lingkungan dan menjaga kelestarian,” harapnya.
Kolaborasi untuk Menjaga Alam
Wakil Bupati Beltim Khairil Anwar mengapresiasi InJourney Airport H.A.S. Hanandjoeddin dan seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Khairil menilai upaya menjaga lingkungan membutuhkan kolaborasi. Pemkab Beltim tidak dapat bekerja sendiri dalam mempertahankan kawasan-kawasan yang memiliki nilai ekologis dan potensi pengembangan daerah.
“Ini kegiatan yang sangat penting dan harus berkolaborasi. Tidak bisa sendiri-sendiri,” kata Khairil.
Khairil berharap kolaborasi yang telah terbangun dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Beltim.
Bagi Pemkab Beltim, keberadaan kawasan seperti Tebat Rasau bukan hanya penting untuk menjaga lingkungan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengembangan pariwisata berbasis alam dan kearifan lokal.
Karena itu, penanaman 900 pohon diharapkan menjadi awal dari upaya yang lebih panjang. Pohon yang hari ini ditanam tidak hanya diharapkan tumbuh menghijaukan kawasan, tetapi juga menjadi bagian dari warisan ekologis yang dapat dinikmati generasi mendatang.
“Menjaga Tebat Rasau berarti menjaga alam, merawat jejak jalur rempah, sekaligus mempertahankan potensi manfaatnya bagi masyarakat Beltim,” ujar Khairil.

