Merawat Tradisi Leluhur: Kekhidmatan Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan di Belitung Timur
Keberlangsungan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi yang diwariskan antargenerasi masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat Kelapa Kampit.
Doa untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Bagi masyarakat yang hadir khususnya dari Etnis Tionghua, Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan bukan hanya menjadi momentum berkumpul. Tradisi tersebut juga menjadi ruang untuk menjaga hubungan sosial dan mempertahankan warisan budaya yang telah dijalankan dari generasi ke generasi.
Sebagai Ketua Yayasan Kelenteng Fuk Tet Che, Kamarudin menyampaikan harapannya terhadap pelaksanaan ritual tahun ini. Menurutnya, doa yang dipanjatkan dalam kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan harapan agar kehidupan masyarakat pada tahun ini dapat berjalan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
“Yang pasti tahun ini akan lebih baik dari tahun kemarin,” ucap Bupati Beltim ini.
Harapan tersebut menjadi bagian dari doa masyarakat yang mengikuti rangkaian kegiatan. Di tengah berbagai dinamika kehidupan, ritual keagamaan dan budaya menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk berkumpul serta menyampaikan harapan bagi keselamatan dan kehidupan yang lebih baik.
Kegiatan di Kelenteng yang berusia ratusan tahun ini juga memperlihatkan bagaimana tradisi dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Warga dari berbagai tempat datang, berkumpul dan menyaksikan prosesi yang telah menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat Tionghoa di Kelapa Kampit.
Di tengah kemeriahan hiburan dan ramainya warga, tradisi tetap menjadi pusat kegiatan. Pembakaran Thai Se Ja menjelang tengah malam menjadi penanda berakhirnya rangkaian ritual.
Sumber: beltim.go.id

