Mengembalikan Kemurnian Langkah: Refleksi Kritis Perjalanan Musyawarah Besar Perkumpulan Umat
Membela kejahatan atas nama solidaritas kelompok sama dengan mengambil jalan yang berliku-liku itu. Itu bukan ukhuwah itu adalah pengkhianatan terhadap amanah yang diemban bersama.
Urgensi Kembali ke “Khittah Fondasi”
Melihat gejala penyimpangan yang kian menjauh dari cita-cita para pendiri, gerakan untuk “Kembali ke Khittah Fondasi” bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban historis yang mendesak. Kembali ke fondasi awal berarti melakukan pembersihan niat (tashihun niyah) secara radikal. Allah berfirman:
“Maka sesungguhnya Kami telah menjadikan mereka ujian bagi (kaum) yang sebelum mereka. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar di tempat yang tinggi, (lagi) Maha Mengetahui.”
— QS. Adz-Dzariyat: 13–14
Organisasi harus berani menarik garis tegas untuk memisahkan diri dari keterikatan politik praktis yang mengorbankan prinsip, dan membersihkan strukturnya dari mentalitas pemburu rente kekuasaan. Kemurnian niat dan tujuan perkumpulan harus dikembalikan pada relnya yang sejati: sebagai benteng moral dan pelayan umat, bukan sebagai perisai hukum bagi para pelanggar amanah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
— HR. Bukhari & Muslim
Jika niatnya sudah tercampur dengan ambisi kekuasaan atau kepentingan duniawi, maka amal kelembagaan pun akan kehilangan keberkahan dan arah.
Menatap Kiprah ke Depan: Meneguhkan Nilai Pesantren
Kiprah ke depan dari perkumpulan ini harus disandarkan pada empat pilar utama yang menjadi jati diri aslinya, diperkuat dengan landasan nilai spiritual:
1. Kesederhanaan: Menolak budaya hedonisme dan kemegahan korporat dalam mengelola organisasi, serta mempertahankan corak hidup bersahaja yang dicontohkan para guru terdahulu. Allah berfirman: “Dan tempat tinggal kamu di dunia hanya sebentar, dan kamu hanya seperti orang-orang yang bermusafir.” (QS. Al-Hadid: 20). Kesederhanaan bukan kemiskinan, melainkan kebebasan dari perbudakan terhadap kemewahan.
2. Kejujuran Mutlak: Menjadikan integritas moral sebagai panglima tertinggi. Menolak segala bentuk kompromi terhadap korupsi, kolusi, dan nepotisme, tanpa pandang bulu. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, atau kerabat dekat.” (QS. An-Nisa: 135). Keadilan tidak boleh berteman dengan kepentingan kelompok.
3. Dakwah yang Merangkul: Menghadirkan dakwah Islam yang menyejukkan, inklusif, dan menyentuh problem riil masyarakat bawah, bukan dakwah yang digunakan untuk melegitimasi kepentingan elit. Allah berfirman: “Dan berikanlah nasihat kepada sesama manusia, dan takutilah hari (kiamat) yang pada hari itu kamu dikembalikan kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 281). Dakwah yang membebaskan, bukan yang membelenggu.
4. Pengembangan Keilmuan Pesantren: Memodernisasi tata kelola pendidikan pondok tanpa mencabut akar tradisi luhur kitab klasik, guna melahirkan generasi yang kuat secara spiritual sekaligus adaptif secara intelektual. Allah berfirman: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9). Ilmu adalah warisan para nabi — bukan alat untuk memperkuat kekuasaan.
Kesimpulan
Perjalanan sejarah sebuah perkumpulan besar tidak pernah lepas dari ujian ruang dan waktu. Kekhilafan di masa lalu saat memasuki ranah politik praktis, hingga terjadinya degradasi moral berupa pembelaan terhadap tindakan korup, harus dijadikan momentum evaluasi total yang pahit namun menyehatkan. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
— QS. Ar-Ra’d: 11
Dengan semangat Kembali ke Khittah, Musyawarah Besar di masa depan tidak boleh lagi menjadi panggung transaksi kekuasaan atau tempat berlindung para oportunis. Ia harus menjelma sebagai momentum kepulangan: pulang menuju kesederhanaan, pulang menuju kejujuran yang radikal, dan pulang untuk melanjutkan mandat suci para pendiri dalam menjaga marwah ilmu dan umat.
Kepulangan ini tidak akan mudah. Akan ada yang merasa terganggu. Akan ada yang merasa dirugikan. Namun itulah harga kejujuran. Dan Allah bersama orang-orang yang jujur.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”
— QS. At-Taubah: 119

