Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi menjelaskan bahwa makna makar Allah dalam hal ini adalah menjebak pelaku maksiat dengan curahan kenikmatan. Mereka yang terjebak akan hidup tenang-tenang saja tanpa rasa khawatir, sampai akhirnya murka Allah turun dan azab-Nya menjemput secara tiba-tiba di saat mereka sama sekali tidak siap.

Bagaimana Membedakan Nikmat dan Fitnah?

Di sinilah pentingnya kita sering-sering mengetuk pintu hati dan bermuhasabah. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan nasihat yang sangat menyentuh dalam kitabnya, Madarijus Salikin. Beliau mengajarkan kita untuk membedakan mana nikmat yang sejati dan mana nikmat yang berupa fitnah (istidraj).

* Nikmat Sejati adalah setiap pemberian yang di dalamnya terdapat sentuhan kasih sayang Allah, yang membuat hati kita melembut, bersyukur, dan menjadi bahan bakar untuk memperbanyak amal saleh demi meraih kebahagiaan abadi di akhirat.
* Istidraj adalah kenikmatan yang justru menjadi fitnah. Betapa banyak orang yang tenggelam dalam fasilitas dunia namun tidak menyadarinya. Mereka terbuai oleh pujian orang-orang yang tidak mengerti agama, tertipu karena hajat dunianya selalu beres, dan merasa suci hanya karena dosa-dosanya masih disembunyikan oleh Allah.

Jangan sampai kita menipu diri sendiri. Jika hari ini salat kita mulai bolong-bolong, tilawah kita mulai ditinggalkan, maksiat mata dan hati makin sering dilakukan, namun uang kita justru makin banyak dan urusan kita makin lancar… berhati-hatilah. Berlututlah, menangis, dan mintalah ampunan. Bisa jadi, itu bukan tanda Allah sedang rida, melainkan tanda Allah sedang tidak peduli lagi pada kita.

Mari kita selalu memeriksa arah hidup kita. Apakah dunia yang ada di genggaman saat ini mendekatkan kita kepada Pemiliknya, atau justru membuat kita makin angkuh dan melangkah menjauh?
Wallahu a’lam bish-shawab.