Pangkalpinang Siapkan Satgas Gabungan Hadapi Karhutla, 134 Titik Kebakaran Tercatat Sejak Agustus
“Satgas akan supaya lebih cepat tanggap,” ujarnya.
Satgas gabungan tersebut nantinya akan memanfaatkan *enam posko Damkar yang telah tersedia. Posko tersebut akan difungsikan sebagai posko gabungan untuk memperkuat koordinasi dan respons lapangan.
Selain memperkuat penanganan di lapangan, Pemkot Pangkalpinang juga menekankan aspek pencegahan dan penegakan hukum. Saparudin meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas pembakaran, termasuk membakar lahan maupun sampah, selama kondisi kemarau dan kekeringan masih berlangsung. Ia mengatakan, setiap aktivitas pembakaran yang dilakukan masyarakat akan mendapat perhatian aparat untuk memastikan apakah kebakaran terjadi karena unsur kesengajaan atau kelalaian.
“Jadi kita minta masyarakat, jangan lagi bakar,” tegasnya.
Saparudin juga menyebutkan unsur kejaksaan telah memberikan perhatian terhadap penanganan kasus kebakaran. Pelaku yang terbukti menyebabkan kebakaran akan diproses sesuai ketentuan hukum guna memberikan efek jera.
“Pelaku-pelaku kebakaran hutan ini akan dilakukan penindakan hukum. Jadi untuk memberikan efek jera,” katanya.
Menurut Saparudin, penegakan hukum diperlukan agar masyarakat tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, terlebih dalam kondisi cuaca panas dan lahan yang mudah terbakar.
Selain Karhutla, rapat juga membahas persoalan kekeringan dan ketersediaan air bersih yang menjadi dampak langsung kondisi cuaca saat ini. Pemkot Pangkalpinang telah mengoordinasikan dukungan pasokan air bagi masyarakat maupun instansi yang mengalami kekurangan air.
Saparudin mengatakan, distribusi air bersih akan didukung sejumlah pihak, mulai dari pemerintah daerah, PDAM, PT Timah, PLN, kepolisian, hingga Kodim.
“Semua akan menyiapkan mobil-mobil untuk membantu menyalurkan air bersih,” ujarnya.
Di sisi lain, upaya antisipasi terhadap potensi krisis air juga mulai dilakukan. Salah satunya melalui pengeboran sumber air di sejumlah lokasi.
Saparudin menyebut, pengeboran dilakukan di kawasan Selindung, termasuk di sekitar lokasi rencana Embung Eka Guna, serta sejumlah titik yang berada dekat kolam retensi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat apabila kondisi kekeringan terus berlangsung hingga Oktober.
“Dengan pembentukan Satgas gabungan, penguatan patroli dan deteksi dini, penegakan hukum terhadap pembakaran, serta dukungan distribusi air bersih, kita berharap dampak kemarau dapat ditekan sekaligus mencegah kebakaran meluas di sejumlah wilayah rawan Karhutla,” pungkasnya. (*)

