Tapak Ibu di Atas Surgaku
Ibu,
Jika tapak Ibu kebas tidak berasa,
jika tapak Ibu lemah tidak berdaya,
maka surga tetap ada di antara roda-roda.
Tetap dibawa Ibu dalam suka dan duka,
biar anaknya tidak berputus asa mengejar surga dalam doa-doa.
Ibu,
Sesekali Ibu berkata, “Biarlah Ibu tidak usah pergi sebab menapak tak kuat lagi.”
Di lain waktu Ibu berkata, “Pergilah anakku, sampaikan maaf dan salam Ibu karena tak hadir ketika akan dijamu.”
Bukan maksud memutus silaturahmi, hanya untuk menjaga cahaya surga cerah berseri,
menjadikan anaknya ingat syafaat dari kekasih Al-Mustofa untuk meraih surga termegah nanti.
Ibu,
Entah sampai kapan tapak Ibu bertahan dalam fana,
untuk membangun surga dunia,
untuk menyiapkan surga abadi,
bagi daku, anak Ibu.
Ibu, Ibu, Ibu…
Surga untukku Ibu siapkan,
surga untuk diri Ibu sendiri tidak Ibu pikirkan.
Dalam bait wahyu dan zikir pagi-petang,
Ibu bersenang-senang menikmati surga yang akan terbentang,
yang akan terpisah dengan tapak Ibu yang terbeku kaku di pembaringan,
tetapi akan menyatu memeluk Ibu dalam keabadian.
Ibu, Ibu…
Surgaku, surga Ibu, dan surga cinta Ibu juga.
Surga anak-anak Ibu dan surga umat Sayyidina Al-Anbiya.
Sebelum hembusan napas terakhir Ibu,
maaf dan ampunan Ibu telah anak Ibu terima.
Sempatkan berbisik dengan ikhlas dan ridho, memohonkan surga untuk anak-anak Ibu.
Lembah Meranti, 2026
(Untuk Ibuku, Ibu anak-anakku, dan Ibu-Ibu yang selalu dirindu)

