Lima mahasiswa berasal dari Pakistan, yakni Saba Noureen pada S1 Akuntansi, Atif Ali dan Iqra Jabbar pada S1 Biologi, serta Mehwish Ali dan Muhammad Mashaf Ali pada S1 Ekonomi. Sementara itu, Rajabmurodov Idris Yusufjonovich dari Tajikistan menempuh pendidikan pada Program Studi S1 Manajemen, sedangkan Jasim Ur Raja dari India menempuh pendidikan pada Program Studi S1 Teknologi Informasi.

Melalui kegiatan Campus Orientation , mahasiswa mendapatkan gambaran awal mengenai kehidupan akademik dan kemahasiswaan di UBB. Materi orientasi mencakup sistem pengelolaan mahasiswa, kurikulum dan proses pembelajaran, bahasa pengantar, layanan pendampingan, hingga fasilitas penunjang perkuliahan. UBB menerapkan kurikulum pendidikan selama delapan semester dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sesuai kebutuhan akademik. Untuk membantu proses adaptasi, mahasiswa juga mendapatkan dukungan berupa kursus Bahasa Indonesia serta pendampingan dari dosen dan mahasiswa.

Mereka turut diperkenalkan dengan berbagai fasilitas kampus, mulai dari ruang perkuliahan, perpustakaan, klinik kesehatan, laboratorium komputer, akses internet, layanan bahasa, hingga bimbingan karier dan kewirausahaan. Kesempatan untuk terlibat dalam organisasi kemahasiswaan serta berbagai kegiatan akademik dan nonakademik juga terbuka bagi mereka.

Orientasi turut membekali mahasiswa dengan sejumlah hal praktis selama menjalani studi, seperti meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia, membangun pertemanan yang positif, menjaga kedisiplinan perkuliahan, menetapkan target akademik dan kelulusan, serta mengelola keuangan dengan baik.

Mahasiswa juga diingatkan untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan teman sekelas maupun teman asrama. Kemampuan beradaptasi dan membangun lingkungan pertemanan yang saling mendukung menjadi bekal penting selama menjalani pendidikan jauh dari negara asal. Bagi delapan mahasiswa tersebut, perjalanan studi di UBB tidak berhenti pada aktivitas di ruang kelas. Bangka Belitung juga menjadi ruang baru untuk mengenal masyarakat, budaya lokal, membangun persahabatan, serta memperoleh pengalaman yang berbeda dari negara asal mereka.

Pada saat yang sama, kehadiran mereka memberikan kesempatan bagi mahasiswa UBB untuk berinteraksi langsung dengan rekan dari berbagai negara. Pertemuan lintas budaya tersebut membuka ruang untuk saling bertukar bahasa, pengalaman, cara pandang, dan pengetahuan dalam kehidupan kampus sehari-hari.

Delapan mahasiswa dari empat negara itu kini menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Bangka Belitung. Dari Kampus Terpadu UBB di Balunijuk, mereka memulai perjalanan baru untuk belajar dan bertumbuh, membawa cerita dari negara asal, sekaligus kelak membawa pengalaman tentang UBB dan Bangka Belitung ke berbagai belahan dunia. (Humas UBB)